Eksplore Jogja . 24/05/2026, 15:44 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Pemerintah Kabupaten Sleman resmi menggelar upacara puncak peringatan Hari Jadi yang ke-110 dengan penuh khidmat di Lapangan Denggung, Sabtu 23 Mei 2026. Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang bertindak sebagai Panghageng Upacara. Di hadapan ribuan warga dan jajaran pejabat, Sultan menyampaikan pesan mendalam terkait arah pembangunan daerah.
Rangkaian sakral peringatan hari jadi ini diawali prosesi napak tilas sejarah Bedhol Projo. Rombongan mengarak memori kolektif pemerintahan dari Pendopo Ambarukmo menuju Pendopo Parasamya Kantor Setda Sleman. Prosesi kultural kemudian berlanjut dengan kirab agung Pusaka Tombak Kyai Turunsih menuju pusat upacara di Lapangan Denggung.
Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama Wakil Bupati Danang Maharsa, jajaran Forkopimda, serta pimpinan DPRD Sleman mengawal langsung seluruh prosesi adat tersebut. Kehadiran ribuan masyarakat lokal yang memadati sekitar lokasi upacara mempertegas sinergi yang kuat antara pihak kraton, pemerintah daerah, dan warga sipil.
Dalam amanatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa peringatan hari jadi daerah tidak boleh terjebak sebagai agenda tahunan yang bersifat seremonial belaka. Sultan mengajak seluruh pemangku kebijakan dan lapisan masyarakat untuk melakukan mulat sarira, yakni sebuah refleksi spiritual dan evaluasi mendalam atas segala capaian yang telah berjalan demi memperbaiki kekurangan di masa depan.
"Hari jadi ini harus menjadi saat untuk mulat sarira: melihat kembali apa yang telah dijalani, meneguhkan apa yang harus diperbaiki, dan melangkah bersama menuju Sleman yang semakin ayom, ayem, sejahtera, lestari, dan bermartabat," ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Raja Kraton Yogyakarta tersebut juga mengulas secara tajam filosofi mulia di balik tema hari jadi tahun ini, "Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman". Sultan mengingatkan orientasi pembangunan modern di Sleman tidak boleh hanya menitikberatkan pada kemajuan infrastruktur lahiriah atau fisik semata. Kemajuan daerah wajib berjalan selaras dengan ketenteraman batin, semangat welas asih, serta pelestarian akar budaya lokal.
Sultan juga meminta seluruh elemen di Kabupaten Sleman untuk senantiasa gumregah, gumregut, dan sengkud—sebuah frasa Jawa yang berarti bangkit bersama, bergerak penuh semangat, dan bekerja keras secara kolektif demi mendongkrak kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat.
Nuansa kebudayaan semakin kental saat puluhan seniman lokal Sleman unjuk gigi mementaskan tarian kolosal bertema perjuangan rakyat di tengah lapangan. Gerakan ritmis para penari yang dinamis sukses memukau pandangan para tamu undangan serta menjadi sarana edukasi sejarah visual bagi generasi muda yang hadir.
Sebagai simbol keselarasan alam dan komitmen pelestarian lingkungan hidup di bumi Sleman, prosesi upacara ditutup secara simbolis melalui aksi pelepasan puluhan burung Jalak Kebo ke alam bebas. Aksi pelepasan satwa ini dipimpin langsung oleh Bupati Harda Kiswaya, Wakil Bupati Danang Maharsa, bersama para pejabat tinggi militer dan kepolisian setempat.
Melalui momentum pertambahan usia ke-110 ini, Pemkab Sleman berkomitmen untuk mengonversi seluruh wejangan Gubernur DIY ke dalam program kerja nyata. Sinkronisasi antara pembangunan ekonomi makro, pemanfaatan teknologi, dan penjagaan kelestarian adat istiadat diharapkan mampu membawa Sleman tumbuh menjadi kawasan yang lebih aman, sejahtera, dan bermartabat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media