Eksplore Jogja . 08/06/2026, 18:41 WIB

Hadiri Nyadran di Semin, Bupati Gunungkidul Ingatkan Lokasi Ritual Bukan untuk Uji Nyali

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

jogja.fin.co.id – Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengimbau masyarakat untuk menghormati tempat-tempat bersejarah dan lokasi ritual kebudayaan di wilayahnya. Pesan itu disampaikan saat menghadiri upacara adat Nyadran di Situs Warisan Budaya Pesanggrahan Gedhong Pulosari, Kalurahan Pundungsari, Kapanewon Semin, Senin 8 Juni 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Endah meminta masyarakat tidak menjadikan kawasan situs budaya sebagai lokasi pembuatan konten negatif, termasuk aktivitas uji nyali yang dinilai dapat mengurangi nilai sejarah dan kesakralan.

“Untuk menghormati tempat-tempat bersejarah maupun lokasi ritual kebudayaan, jangan membuat konten-konten negatif seperti uji nyali atau yang lainnya. Sejatinya tempat ini memiliki nilai sejarah dan tentu harus kita jaga bersama,” kata Endah Subekti Kuntariningsih.

Upacara adat Nyadran di Gedhong Pulosari berlangsung khidmat dan diikuti masyarakat setempat. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya sekaligus bentuk penghormatan terhadap sejarah trah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di wilayah Gunungkidul.

Situs Makam Putra Sri Sultan Hamengkubuwono II

Bupati Gunungkidul menyebut Gedhong Pulosari merupakan kawasan pesarean atau tempat peristirahatan terakhir GRM Sumadi dan GRAy Sudarminah, yang merupakan putra ke-53 dan putri ke-59 dari Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Keberadaan situs tersebut dinilai memiliki nilai historis tinggi karena berkaitan langsung dengan jejak keluarga Keraton Yogyakarta di wilayah Gunungkidul.

Juru Kunci Pasarean sekaligus Ketua Paguyuban Sekar Cempaka Mulya, Kahono, menjelaskan kompleks pasarean Gedhong Pulosari menjadi lokasi pemakaman keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Menurut Kahono, makam tersebut menjadi pengingat hubungan historis antara masyarakat Semin dengan trah Keraton Yogyakarta yang telah berlangsung turun-temurun.

Nyadran Jadi Momentum Merawat Warisan Budaya

Baca Juga

Selain menjadi tradisi tahunan, Nyadran di Gedhong Pulosari juga dipandang sebagai ruang memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya.

Dalam sambutannya, Endah menyinggung filosofi Jawa “mikul dhuwur mendem jeru” yang menurutnya relevan sebagai pijakan membangun karakter masyarakat dan penghormatan terhadap leluhur.

Bupati menilai penghormatan kepada sejarah tidak cukup dilakukan melalui seremoni semata, tetapi juga diwujudkan melalui sikap menjaga situs budaya agar tetap lestari dan tidak disalahgunakan.

Pada agenda tersebut, Bupati Gunungkidul juga menerima cinderamata berupa wayang karton hasil karya pelaku UMKM dan Desa Prima Pundungsari sebagai simbol kreativitas masyarakat lokal yang terus berkembang di tengah pelestarian tradisi.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com