Edukasi . 16/07/2026, 20:29 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Publik sering kali dibuat tercengang oleh besarnya aset yang dimiliki Muhammadiyah. Organisasi ini mengelola kekayaan yang ditaksir mencapai Rp450 triliun dalam bentuk sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren, rumah sakit, klinik, hingga pabrik.
Banyak orang di luar persyarikatan hanya melihat kesuksesan besar tersebut dari luar, tanpa memahami proses panjang dan perjuangan di dalamnya. Keberhasilan ini bukanlah produk manajemen bisnis semata.
Pakar komunikasi Universitas Ahmad Dahlan, DR. Choirul Fajri, menyebut gurita aset tersebut merupakan wujud kasih sayang Allah atas doa dan ikhtiar jutaan anggota Muhammadiyah yang terorganisir.
"Kita meyakini, zat Allah Asmaul Husna dalam hal ini Ar-Rahim sangat jelas dan berwujud," ujar Choirul saat mengisi kajian Asmaul Husna Pawon Moetoe di Masjid Multi Fungsi SMP Muhammadiyah 7 Kotagede, Yogyakarta.
Kajian yang dihadiri oleh 140 peserta ini diawali dengan pelaksanaan salat dhuha 8 rakaat secara individu, pembacaan surat pilihan, serta lantunan Asmaul Husna. Menariknya, doa bersama dipandu langsung oleh seorang alumni yang sedang menjalankan ibadah umrah di Mekkah.
Dalam pemaparannya, Choirul mengurai bahwa dasar pengajaran di Muhammadiyah mengedepankan metode kasih sayang dari pendidik dan orang tua kepada anak didik. Penanaman nilai ini tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga mengutamakan keteladanan nyata.
Sikap kritis dan rasa tanggung jawab yang ditanamkan sejak dini di sekolah menjadi modal besar bagi para kader. Pendidikan karakter inilah yang menjadi keunggulan utama dalam mencetak lulusan yang berintegritas.
Sementara itu, alumni SMP Muhammadiyah 7 Kotagede angkatan 1984 yang kini menjabat sebagai pimpinan Bank Indonesia di Jakarta, Syafruddin Kartika Wulan, menekankan pentingnya kesinambungan gerakan.
Pengurus di setiap level kepemimpinan wajib mempertahankan sikap tawaduk melalui komunikasi yang intens dengan umat.
Amanah besar dalam mengelola aset dan kepercayaan publik harus dijaga melalui berbagai program dakwah dan kajian rutin. Semangat berorganisasi ini perlu diimplementasikan secara konsisten oleh seluruh kader di semua tingkatan.
Pondasi pendidikan karakter yang kuat di sekolah terbukti melahirkan kader yang tangguh. Jiwa tanggung jawab dan pemikiran kritis yang diterapkan sejak masa sekolah menjadi modal utama para alumni untuk berkiprah di tingkat nasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media