Dulu Hantarkan Para Senior Jadi Profesor, Kini Giliran Mahli Zainuddin Tago Raih Gelar Guru Besar
Dr. Mahli Zainuddin Tago, mantan "ahli jafung" UMY tahun 1999 yang sukses bantu para senior raih gelar profesor, kini resmi menyusul jadi Guru Besar..Foto:dok.Dini
jogja.fin.co.id - Roda nasib terus berputar membawa kejutan bagi mereka yang tekun bekerja dalam senyap. Pada tahun 1999, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengenal Mahli Zainuddin Tago sebagai sosok terampil di balik layar yang membantu pengurusan jabatan fungsional (jafung) para dosen.
Saat itu, dengan sistem administrasi yang masih serba manual, ia sukses mendorong para tokoh senior kampus meraih gelar akademik tertinggi.
Dua nama besar yang ia bantu adalah tokoh aktivis Pak Said Tuhuleley dan dekan FAI-UMY kala itu, Allahuyarham Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas. Berkat ketekunan Mahli merapikan dokumen, Yunahar Ilyas berhasil melompat menjadi Guru Besar pertama di fakultas tersebut.
Kini, setelah melintasi perjalanan panjang selama puluhan tahun, giliran Mahli yang memanen hasil dedikasinya. Ia resmi dinyatakan lulus Uji Kompetensi (Ukom) Guru Besar di bawah Kementerian Agama.
Baca Juga
Menaklukkan Keraguan Diri
Pencapaian ini melampaui mimpi masa kecil anak pedalaman asal Kerinci tersebut. Setamat SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahun 1985 , impian Mahli untuk langsung melanjutkan studi ke perguruan tinggi sempat kandas karena keterbatasan ekonomi.
Ia harus berjuang bertahan hidup terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa masuk ke jurusan Ilmu Perbandingan Agama di Fakultas Ushuluddin.
Dalam perjalanannya, Mahli mengaku sempat didera rasa tidak percaya diri untuk menyandang gelar tertinggi di dunia akademik. Ia merasa tingkat keilmuannya belum sebanding dengan kehormatan gelar profesor.
Namun, petuah lama dari almarhum Yunahar Ilyas semasa hidup selalu menguatkannya. Yunahar meyakinkan Mahli bahwa gelar akademik tertinggi justru menjadi motivasi terbaik untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memperdalam ilmu pengetahuan.
Drama Administrasi dan Riset Kampung Halaman
Baca Juga
- Wali Kota Jogja Tolak Regrouping SD Negeri Minim Murid, Ini Alasannya
- Gandeng Kampus Australia Universitas Widya Mataram Buka Jalur Kuliah ke Luar Negeri
Jalan Mahli menuju gelar profesor tidaklah mulus. Regulasi baru menuntut publikasi karya ilmiah pada jurnal internasional bereputasi tinggi.
Mahli memilih fokus meneliti tanah kelahirannya, Kerinci. Ia mengkaji pergeseran sosial keagamaan masyarakat adat hingga pola kehidupan para diaspora Kerinci di Malaysia.
Riset mendalam tersebut melahirkan empat buku dan membawa artikel ilmiahnya menembus jurnal internasional terindeks Scopus Q-1 terbitan Cambridge University.
Meskipun syarat utama karya ilmiah terpenuhi, birokrasi kembali menguji kesabarannya. Sejak diajukan pada tahun 2020, berkas Mahli sempat tertahan akibat perubahan aturan administrasi kementerian, hingga ia harus mengurus perpindahan dokumen dari Kemendikbud ke Kemenag.
Lelah dengan rumitnya urusan berkas, Mahli memilih pasrah. Ia memutuskan fokus mengabdi sebagai Ketua STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh di Jambi, mengesampingkan ambisinya mengejar gelar Guru Besar.