Lifestyle . 17/07/2026, 15:56 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Olahraga panahan di Daerah Istimewa Yogyakarta kini mengalami pergeseran fungsi yang dinamis. Aktivitas yang semula identik dengan pembinaan prestasi atlet, saat ini bertransformasi menjadi tren gaya hidup rekreasi dan kebugaran yang digemari oleh lintas generasi.
Meningkatnya minat publik dipicu oleh perpaduan unik antara kebutuhan aktivitas fisik dan latihan mental.
Memanah terbukti efektif melatih kekuatan otot tubuh bagian atas, kesabaran, koordinasi mata dan tangan, hingga menjadi sarana manajemen stres yang ampuh bagi masyarakat urban.
Fenomena pergeseran minat dari kalangan non-atlet ini dirasakan langsung oleh pemilik toko First Archery Shop Yogyakarta, Adimas Rahadian.
Gerainya yang terletak di Mejing Lor (Gamping) dan Komplek Taman Kuliner Condongcatur (Sleman) kini rutin didatangi oleh mahasiswa, pelajar, pegawai profesional, hingga anak-anak.
"Banyak masyarakat umum sekarang menyukai panahan. Mungkin untuk mengalihkan masalah atau kepenatan di kantor ke target," ujar Adimas.
Menurut Adimas, memanah menjadi media yang efektif bagi para pekerja maupun mahasiswa untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas.
Daya tarik lainnya terletak pada efisiensi biaya. Olahraga ini rupanya tidak semahal yang dibayangkan publik karena peralatannya bisa digunakan dalam jangka panjang.
Satu paket produk lokal berkualitas bagus yang berisi busur dan enam anak panah fiber dibanderol seharga Rp850 ribu. Sementara untuk paket lengkap yang sudah dibekali aksesori pelindung dipatok sekitar Rp1,5 juta.
Spesifikasi alat juga disesuaikan dengan usia pengguna, di mana anak-anak disarankan menggunakan jenis standard bow dengan anak panah berbahan fiber.
Populeritas panahan di Yogyakarta tidak lepas dari akar budaya lokal yang kuat melalui tradisi Jemparingan. Gaya panahan tradisional warisan Kerajaan Mataram ini tetap eksis dan justru menjadi daya tarik tersendiri dalam ekosistem gaya hidup modern.
Jemparingan menyajikan keunikan yang kontras dengan panahan modern. Pemanah melakukan bidikan dengan posisi duduk bersila tanpa bantuan alat keker (sight) maupun penstabil (stabilizer). Selain itu, para pelakunya diwajibkan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap selama prosesi memanah.
Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang rekreasi mandiri, melainkan juga menjadi sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, serta pelestarian budaya.
Komunitas dan klub lokal di Yogyakarta kini banyak membuka kelas fun archery untuk umum maupun keanggotaan rutin demi mewadahi antusiasme tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media