Edukasi . 23/08/2026, 16:44 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Dr. Shulbi Muthi Sabila mengingatkan masyarakat agar tidak mentah-mentah menganggap isi linimasa media sosial sebagai cerminan dunia nyata.
Informasi yang tampil di layar pengguna merupakan hasil seleksi ketat serta personalisasi sistem algoritma platform digital.
Shulbi menjelaskan, dua orang yang menggunakan aplikasi sama bisa melihat konten berbeda. Tampilan informasi sangat bergantung pada jejak digital pengguna, mulai dari riwayat pencarian, interaksi, hingga minat pribadi.
"Yang muncul di layar kita bukanlah keseluruhan dunia, melainkan dunia yang telah dipilihkan untuk kita," kata Shulbi di Kampus Terpadu UWM, Kamis 13 Agustus 2026.
Mekanisme otomatisasi dan personalisasi ini memang membuat konten terasa lebih relevan bagi setiap individu.
Namun, pola kerja tersebut berpotensi mengurung pengguna dalam ruang pandang yang sempit. Masyarakat menjadi lebih sering menerima informasi yang hanya sejalan dengan keyakinannya sendiri.
Fenomena ini menggeser pola konstruksi realitas publik. Dulu media massa mendominasi pembentukan pandangan masyarakat.
Kini platform digital mengambil alih peran tersebut melalui sistem yang bekerja mendistribusikan serta mengulang konten secara terus-menerus.
Pembingkaian informasi juga memengaruhi persepsi publik terhadap suatu peristiwa. Tren gaya hidup, karier, hingga tampilan fisik ideal di media sosial sering kali melewati proses penyuntingan dan seleksi ketat sebelum tayang.
Peristiwa yang viral di media sosial membuktikan agenda publik saat ini sangat dipengaruhi oleh algoritma akun masing-masing. Penampakan konten yang berulang dapat menggeser standar masyarakat dalam menilai kehidupan normal.
Shulbi melanjutkan, tantangan utama publik saat ini tidak lagi sebatas membedakan berita benar atau bohong. Masyarakat dituntut memahami bahwa seluruh tayangan linimasa merupakan hasil pembingkaian dan pengulangan informasi.
Pemahaman atas cara kerja algoritma menjadi fondasi utama literasi digital. Publik harus lebih kritis dan tidak mudah menggeneralisasi isi media sosial sebagai kenyataan objektif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media