Eksplore Jogja . 10/05/2026, 14:55 WIB

Ikonik! Jemaah Haji Gunungkidul Bawa Identitas Blangkon Yogyakarta ke Tanah Suci

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

jogja.fin.co.id – Pemandangan berbeda terlihat di tengah jutaan umat manusia yang memadati Tanah Suci tahun ini. Rombongan jemaah haji asal Kabupaten Gunungkidul yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) YIA 10 tampil mencolok. Para jemaah laki-laki kompak mengenakan blangkon, penutup kepala tradisional khas Yogyakarta, selama menjalankan rangkaian ibadah.

Berhaji mengenakan blangkon bukan saja tampil beda, tapi juga menunjukkan sebuah tradisi yang memadukan kebanggaan budaya dengan fungsi praktis di lapangan. Saban Nuroni, pendamping dari KBIHU Muslimat NU, menjelaskan bahwa penggunaan blangkon ini telah menjadi inisiatif rutin sejak tahun 2017.

"Blangkon adalah simbol identitas Yogyakarta. Kami ingin mengenalkan budaya lokal di kancah internasional sekaligus memudahkan pengawasan antarjemaah," ungkap Saban, Rabu 6 Mei 2026.

Filosofi 17 Rakaat dalam Lipatan Blangkon

Di balik bentuknya yang estetik, blangkon yang dikenakan jemaah menyimpan makna religius yang sangat mendalam. Setiap elemen desainnya ternyata selaras dengan nilai-nilai ibadah harian seorang Muslim.

Lipatan pada blangkon berjumlah 17, yang secara filosofis melambangkan jumlah total rakaat salat fardu dalam sehari semalam. Selain itu, tonjolan atau mondolan di bagian belakang mengajarkan prinsip untuk menyimpan rapat-rapat keburukan atau aib orang lain, bukan justru mengumbarnya ke publik.

Dari sisi teknis ibadah, blangkon juga sangat fungsional. Desain bagian depan yang terbuka memastikan area kening jemaah tidak terhalang saat melakukan sujud, sehingga syarat sah salat tetap terpenuhi dengan sempurna.

Menjadi 'Radar Visual' di Tengah Kerumunan

Selain aspek spiritual, blangkon berfungsi sebagai alat bantu navigasi atau 'GPS visual' bagi rombongan. Mengingat jutaan orang mengenakan pakaian serupa seperti ihram atau pakaian putih polos, mengenali sesama anggota rombongan menjadi tantangan besar.

Warna dan bentuk blangkon yang khas memudahkan jemaah untuk saling memantau dari kejauhan, terutama saat keluar dari keramaian Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. "Sangat efektif untuk mengenali kawan jika terpisah. Dari jauh sudah terlihat jelas kalau itu rombongan kita," tambah Saban.

Terdapat sekitar 40 jemaah laki-laki dari total 103 orang dalam rombongan KBIHU Muslimat NU yang mengenakan blangkon secara rutin. Rencananya, identitas budaya ini akan terus mereka gunakan hingga puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Melalui aksi ini, jemaah asal Gunungkidul membuktikan bahwa menjaga kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan kekhusyukan menjalankan rukun Islam kelima di tanah para nabi.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com