Eksplore Jogja . 10/05/2026, 08:27 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Di tengah gempuran budaya instan dan dominasi teknologi digital, puluhan anak-anak dan remaja di Kabupaten Sleman justru memilih jalan sunyi yang tidak mudah: menjadi dalang. Komitmen ini terlihat nyata dalam gelaran Festival Dalang Anak dan Remaja Kabupaten Sleman 2026 yang resmi dibuka di Gedung Serba Guna Sleman, Sabtu 9 Mei 2026.
Kegiatan yang masuk dalam rangkaian perayaan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman ini diikuti oleh 34 peserta. Rinciannya, 17 peserta berkompetisi di kategori anak-anak pada 9-10 Mei, sementara 17 lainnya bertarung di kategori remaja pada 11-12 Mei 2026. Mereka merupakan representasi terbaik dari setiap kapanewon yang ada di Bumi Sembada.
Menjadi seorang dalang bukanlah perkara sepele. Selain harus menguasai teknik vokal (antawacana), sabetan (gerak wayang), hingga irama musik gamelan, seorang dalang dituntut memiliki ketahanan fisik dan mental untuk duduk bersila dalam durasi yang lama.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyoroti fenomena ini sebagai sesuatu yang istimewa. Menurutnya, di saat masyarakat modern cenderung mengejar hal-hal yang praktis, para peserta festival ini justru berani menekuni bidang yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.
"Anak-anak ini luar biasa. Menjadi dalang itu tidak gampang. Butuh kedisiplinan untuk mempelajari nilai-nilai kehidupan yang kompleks di dalam cerita wayang. Mereka belajar duduk semalam suntuk, mengasah rasa, dan memahami filosofi yang mendalam," ujar Danang saat memberikan apresiasi kepada para peserta.
Pemerintah Kabupaten Sleman memandang agenda tahunan ini sebagai wadah strategis untuk mencetak suksesor kebudayaan. Upaya tersebut bertujuan memastikan estafet kepemimpinan seni tradisi tidak terputus begitu saja.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sleman, Arif Wibowo, menegaskan bahwa festival ini berfungsi sebagai ruang pembinaan yang konkret. Menurutnya, seni pedalangan mengandung muatan karakter yang sangat kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian.
"Panggung ini merupakan bentuk penguatan jati diri bagi para pelaku seni muda. Nilai-nilai moral di dalam lakon wayang tetap relevan dengan kehidupan masa kini, terutama dalam membentengi karakter anak muda dari pengaruh luar yang kurang baik," jelas Arif.
Melalui ajang ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen terus memposisikan seni dan budaya sebagai pilar utama pembangunan karakter masyarakat. Kehadiran para dalang muda ini menjadi bukti bahwa meski zaman telah berganti ke arah serba digital, magnet wayang kulit masih tetap kuat di hati generasi penerus.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media