Edukasi . 11/05/2026, 18:58 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memperkuat posisi Indonesia dalam kancah diplomasi global. Melalui kunjungan resmi ke Vatikan pada 5-6 Mei 2026, organisasi Islam tersebut menjalin aliansi strategis dengan Takhta Suci untuk mengampanyekan perdamaian dunia di tengah eskalasi konflik global yang kian memanas.
Delegasi yang dipimpin oleh Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, diterima langsung oleh pejabat tinggi Vatikan serta mengikuti audiensi khusus dengan Paus Leo XIV. Kunjungan ini merupakan respons nyata atas keprihatinan kolektif terhadap kondisi geopolitik dunia yang dinilai sedang dalam keadaan tidak stabil.
"Dunia secara global sedang tidak baik-baik saja akibat perang yang berkecamuk di berbagai belahan bumi," tegas Achmad Nurmandi dalam konferensi pers di Kampus UMY, Bantul, Senin 11 Mei 2026.
Kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam menindaklanjuti Deklarasi Istiqlal 2024 yang sebelumnya telah disepakati antara Indonesia dan Vatikan. Poin utama yang menjadi fokus adalah upaya humanisasi atau menjaga perdamaian serta penguatan di sektor pendidikan.
Muhammadiyah menyadari bahwa misi kemanusiaan dalam skala internasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Aliansi dengan berbagai organisasi lintas agama, terutama otoritas Negara Vatikan, menjadi kunci untuk melakukan advokasi dan kritik terhadap aksi kekerasan yang merusak tatanan kemanusiaan.
Salah satu poin revolusioner dalam kesepakatan ini adalah rencana pengiriman dosen-dosen UMY untuk mengajar di Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI) di Roma. Institut ini merupakan lembaga prestisius di bawah naungan Vatikan yang bertugas mendidik para pastor dari seluruh penjuru dunia.
Pihak Vatikan, melalui Presiden PISAI Wahab Silmi, menyatakan ketertarikan mendalam terhadap corak pemikiran Islam moderat atau Wasathiyah serta konsep Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah di Indonesia.
"Mereka sangat tertarik dengan pemikiran moderat dan berkemajuan yang dibawa Muhammadiyah, karena gagasan tersebut sangat relevan dan dibutuhkan dunia saat ini," ujar Achmad.
Langkah pengiriman pengajar ini diharapkan mampu memberikan perspektif Islam yang inklusif bagi para calon pemimpin gereja Katolik global. Melalui pesan perdamaian, advokasi, dan aksi nyata, kolaborasi Muhammadiyah-Vatikan diharapkan mampu menjadi penyejuk di tengah ketegangan dunia yang terus meningkat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media