News . 11/05/2026, 15:20 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Fenomena tanah ambles atau sinkhole yang muncul di kawasan Alas Jomblang, Padukuhan Tileng, Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo, kini memasuki fase investigasi serius. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul resmi menggandeng tim ahli dari Fakultas Geofisika Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang untuk membedah struktur geologi di bawah lubang raksasa tersebut.
Langkah kolaboratif ini diambil setelah laporan warga menyebutkan dimensi lubang kian melebar secara ekstrem sejak pertama kali ditemukan pada Maret 2026 lalu. Investigasi ini menggunakan teknologi canggih Ground Penetrating Radar (GPR) guna memetakan potensi rongga bawah tanah yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
"Kami menggandeng tim Geofisika dari Undip untuk mengkaji kondisi tanah, struktur geologi, serta potensi perkembangan sinkhole di wilayah tersebut," jelas Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, Senin 11 Mei 2026.
Berdasarkan data lapangan, lokasi munculnya sinkhole ini bukanlah titik baru. Tercatat, fenomena serupa setidaknya sudah terjadi tiga kali di titik yang sama dalam satu dekade terakhir. Upaya penutupan lubang secara mandiri oleh warga dengan material pohon pisang di masa lalu terbukti tidak efektif membendung tekanan geologi Karst Gunungkidul.
"Sepuluh tahun lalu pernah muncul di sana, sudah diurug, dan terakhir kemarin muncul lagi setelah hujan lebat," tambah Purwono.
Meski lokasi lubang berada di area ladang produktif yang berjarak sekitar 300 meter dari pemukiman warga, ancaman perluasan tetap menjadi prioritas. Personel Tagana setempat melaporkan bahwa lubang yang awalnya hanya berdiameter 2 meter kini telah melonjak hingga lebar 10 meter dengan kedalaman mencapai 4 meter.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya retakan-retakan tanah baru yang mengelilingi pusat amblesan. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, menyebutkan bahwa pemetaan dengan alat GPR sangat krusial untuk menentukan apakah area tersebut masih aman untuk aktivitas pertanian atau harus dikosongkan secara permanen.
"Data saat ini sedang diolah oleh tim ahli Undip. Kami menunggu rekomendasi teknis untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya bagi masyarakat sekitar," tutup Purwono.
Saat ini, BPBD Gunungkidul mengimbau pemilik lahan dan warga sekitar untuk tidak mendekati radius retakan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi, guna menghindari risiko amblesan susulan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media