News . 15/05/2026, 10:56 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Strategi Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menanggulangi kemiskinan kini menjadi sorotan tajam. Meski angka kemiskinan ekstrem berhasil ditekan hingga menyentuh angka 6,71 persen atau sekitar 26.747 keluarga, terdapat ketimpangan yang sangat mencolok dalam alokasi anggaran antara bantuan bersifat konsumtif (bansos) dengan pemberdayaan ekonomi produktif.
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Sosial (Dinsos) Sleman, total masyarakat yang masuk kategori miskin dan rentan miskin saat ini mencapai 37 persen, atau setara dengan 126.877 keluarga. Walaupun angka kemiskinan ekstrem mengalami tren positif dengan penurunan dari tahun sebelumnya yang berada di atas 7,4 persen, mekanisme pengentasannya dinilai masih sangat bergantung pada bantuan langsung.
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Kelembagaan Dinsos Sleman, Feri Istanto, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait jomplangnya distribusi dana. Saban tahun, dana bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako mampu menembus angka fantastis sebesar Rp300 miliar. Belum lagi tambahan bansos untuk lansia dan disabilitas yang mencapai Rp10 miliar.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan anggaran yang dialokasikan untuk memandirikan warga melalui modal usaha.
"Jomplangnya kan itu luar biasa. Untuk yang sifatnya bantuan pemberdayaan, untuk modal usaha paling hanya ratusan juta, tidak sampai Rp200 juta atau Rp300 juta. Kebijakan pemerintah masih ke bansos murni ke masyarakat miskin," tutur Feri saat menjelaskan situasi kebijakan anggaran saat ini.
Jaring Pengaman Pendidikan Melalui "Sleman Pintar"
Di tengah dominasi bansos murni, Dinsos Sleman mencoba memberikan solusi jangka panjang melalui sektor pendidikan. Lewat program beasiswa "Sleman Pintar", pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp14-15 miliar untuk memutus rantai kemiskinan dari jalur akademik.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 700 mahasiswa dari keluarga kurang mampu telah merasakan manfaat beasiswa ini. Program ini dirancang untuk menjamin keberlangsungan pendidikan para penerimanya hingga lulus perguruan tinggi. "Untuk beasiswa kuliah, sampai lulus," tambah Feri menekankan keberlanjutan program tersebut.
Kepala Dinsos Sleman, Wawan Widiantoro, menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya mengoptimalkan sisa ruang anggaran untuk pemberdayaan masyarakat produktif. Fokus utama diberikan kepada keluarga yang memiliki motivasi kuat untuk berkembang atau mereka yang sudah memiliki embrio usaha.
Langkah nyata yang diambil mencakup pembinaan UMKM, pemberian sarana prasarana, hingga pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
"Pelatihan digital marketing juga kita lakukan," tegas Wawan.
Langkah ini diharapkan mampu menggeser ketergantungan warga dari sekadar penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media