News . 17/05/2026, 12:19 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta langsung bergerak menyusun langkah strategis demi menyelamatkan aset sejarah berupa rumah peninggalan Pahlawan Nasional, Prof. dr. M. Sardjito, di Kelurahan Terban, Gondokusuman. Langkah penyelamatan ini menjadi prioritas agar bangunan berasitektur kuno tersebut tidak jatuh ke tangan pihak swasta komersial.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa pemerintah daerah menaruh atensi penuh terhadap masa depan bangunan bergaya Indische ini. Karena nilai historisnya yang sangat melekat dengan perjalanan dunia pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta, Pemkot kini melirik pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) DIY sebagai solusi pendanaan utama.
Hasto tidak menampik bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Yogyakarta tahun 2026 yang sudah berjalan tidak memiliki pos sisa untuk pengadaan lahan berskala besar. Oleh karena itu, pengajuan alokasi anggaran khusus melalui Danais dinilai sebagai jalur yang paling rasional dan tepat sasaran.
Meski peluang tersebut terbuka lebar, Pemkot Yogyakarta kini sedang mematangkan proposal pengajuan resmi. Dokumen tersebut nantinya akan diserahkan langsung kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk mendapatkan persetujuan dan asistensi regulasi.
"Kita sebenarnya mendapatkan secara rutin dukungan dana istimewa. Tetapi kan itu juga butuh proses untuk mengusulkan. Peruntukannya kan harus disampaikan dulu kepada Pak Gubernur," jelas Hasto Wardoyo mengenai mekanisme birokrasi Danais.
Sebagai aksi nyata di lapangan, Hasto menjadwalkan pertemuan khusus dengan pihak keluarga ahli waris dalam waktu dekat. Tidak bergerak sendiri, Pemkot Yogyakarta juga akan menggandeng Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, serta jajaran direksi RSUP dr. Sardjito untuk merumuskan formula akuisisi bersama.
Kolaborasi ini dinilai krusial mengingat almarhum dr. Sardjito merupakan rektor pertama UGM sekaligus tokoh kunci di balik berdirinya rumah sakit pusat tersebut. Sinergi lintas sektor diharapkan mampu mempercepat proses pengambilalihan aset tanpa harus membebani satu instansi saja.
"Saya dalam waktu dekat ini mau ketemu keluarganya dulu. Setelah itu saya juga mau diskusi dengan Bu Rektor (UGM) atau juga Direktur Rumah Sakit Sardjito untuk diskusi tentang ini ya," tutur Hasto.
Kekhawatiran terbesar pemerintah saat ini adalah berubahnya fungsi bangunan bersejarah tersebut menjadi ruang komersial modern seperti kafe atau restoran, yang marak menjamur di kawasan perkotaan Jogja. Padahal, rumah di Terban tersebut merupakan saksi bisu tempat dr. Sardjito melahirkan karya obat tradisional peluruh batu ginjal legendaris, Calcusol.
Gayung bersambut, pihak keluarga almarhum melalui perwakilannya, Budhi Susanto (70), juga berharap rumah tersebut dibeli oleh institusi yang tepat seperti UGM atau UII. Keluarga membayangkan rumah ini ke depan bisa dialihfungsikan menjadi Museum Profesor dr. Sardjito, rumah dinas rektor, atau klinik bakti sosial untuk masyarakat luas.
"Saya ikut berharap mudah-mudahan tidak dibeli perorangan, saya ikut berharap tidak ke swasta. Jangan sampai rumah yang memiliki sejarah melahirkan karya obat penting ini malah berubah menjadi kafe," tegas Hasto mengakhiri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media