Senin, 08 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

Dinkes Yogyakarta Sisir Tumbuh Kembang Korban Daycare Little Aresha, Belasan Balita Terindikasi Gizi Kurang

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
20/05/2026, 10:04 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Dinkes Yogyakarta Sisir Tumbuh Kembang Korban Daycare Little Aresha, Belasan Balita Terindikasi Gizi Kurang

Ilustrasi kekerasan terhadap anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta.Foto:jogjafincoid

jogja.fin.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan mengambil Langkah untuk menyelamatkan masa depan anak-anak yang menjadi korban di Daycare Little Aresha, Kelurahan Sorosutan. Otoritas kesehatan daerah menerjunkan tim medis khusus guna memastikan seluruh anak yang pernah mengecap pengasuhan di tempat tersebut mendapatkan pemulihan fisik dan mental secara optimal.

Langkah darurat ini menyasar deteksi dini dampak penelantaran berkepanjangan yang melanda para mantan peserta didik di lembaga bermasalah tersebut. Dinkes menggandeng berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk mengawal pemulihan para balita secara berkelanjutan.

"Upaya ini untuk memastikan anak-anak memperoleh penanganan yang optimal sesuai hasil skrining," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Yogyakarta, Aan Iswanti, saat memaparkan program intervensi tersebut di Yogyakarta.

Hasil Skrining Massal Ungkap Rapor Merah Kesehatan Fisik Anak

Penyisiran kesehatan yang berlangsung secara menyeluruh tersebut melibatkan koordinasi lintas sektor antara jaringan Puskesmas setempat dan Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA). Tim gabungan menerapkan instrumen skrining ketat untuk memetakan grafik pertumbuhan serta perkembangan psikomotorik anak secara detail.

Pemeriksaan klinis ini bertujuan mengidentifikasi anomali kesehatan sejak awal. Melalui basis data yang akurat, tim medis dapat merumuskan tindakan pemulihan yang presisi sesuai dengan derajat trauma serta gangguan fisik masing-masing anak.

"Skrining dengan sasaran balita atau anak-anak mantan peserta daycare untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan anak sejak dini sehingga dapat dilakukan tindak lanjut yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing anak," kata Aan menerangkan fokus pemeriksaan lapangan.

Sisi memprihatinkan mencuat dari evaluasi data antropometri yang dihimpun tim medis di lapangan. Berdasarkan pemeriksaan mendalam terhadap 149 anak yang mengikuti skrining pertumbuhan, petugas menemukan fakta bahwa 18 anak menderita gangguan metabolisme berat akibat asupan nutrisi yang buruk. Belasan balita tersebut kini terdeteksi masuk dalam fase berat badan kurang (underweight) serta gizi kurang (wasting). Kondisi ini menjadi alarm keras karena merupakan pintu masuk menuju stunting dan penurunan daya tahan tubuh kronis pada anak.

Kolaborasi Pemulihan Mental Bersama Psikolog Klinis

Advertisement

Menyadari bahwa dampak kekerasan tidak hanya menyerang fisik, Pemkot Yogyakarta mengintegrasikan layanan medis dengan pemulihan psikologis. Selama proses pemeriksaan fisik berlangsung, para orang tua korban juga mendapatkan ruang konsultasi khusus untuk mengurai trauma psikis keluarga.

Dinkes menggandeng Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Daerah Istimewa Yogyakarta guna memberikan pertolongan pertama pada aspek mental anak dan orang tua. Sinergi ini bertujuan menghapus memori buruk dari pola pengasuhan menyimpang yang sebelumnya diterapkan pihak pengelola daycare.

"Saat pelaksanaan kegiatan skrining pada anak peserta Daycare oleh tim puskesmas sekaligus dilakukan pendampingan orang tua oleh tim dari Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Daerah Istimewa Yogyakarta," ucap Aan menambahkan skema penanganan psikis korban.

Pemerintah daerah mengimbau para orang tua korban untuk bersikap proaktif dan tidak meremehkan perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak mereka. Deteksi dini secara mandiri di rumah memegang peranan krusial dalam mempercepat proses penyembuhan total. Warga diminta segera mendatangi pusat layanan kesehatan terdekat jika menemukan gejala kemunduran motorik, penurunan nafsu makan ekstrem, atau gangguan kecemasan pada anak pasca-tragedi tersebut.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja