Edukasi . 22/05/2026, 20:57 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Sesi diskusi 1 on 1 dalam gelaran Jogja Financial Festival (JFF) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Jumat 22 Mei 2026, berlangsung penuh kejutan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Founder sekaligus Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, harus berhadapan dengan daya kritis generasi muda. Alih-alih mendapatkan pertanyaan normatif, Menkeu Purbaya justru menerima pertanyaan berbobot dan menohok dari sejumlah pelajar sekolah menengah atas (SMA).
Suasana gedung pameran langsung riuh saat sesi tanya jawab bertajuk talkshow eksklusif tersebut dibuka untuk umum. Puluhan siswa SMA dan mahasiswa saling berebut mengangkat tangan, bahkan beberapa di antaranya berdiri demi menarik perhatian Chairul Tanjung yang bertindak sebagai moderator. Pengusaha nasional tersebut akhirnya menunjuk dua pelajar beruntung untuk naik ke atas panggung guna melempar pertanyaan langsung kepada bendahara negara.
Pertanyaan tajam pertama datang dari Dewi, seorang siswi SMAN 3 Yogyakarta. Meski sempat mengaku gugup karena berdiri berdampingan dengan para tokoh nasional, Dewi berhasil memukau audiens lewat pertanyaan substantif mengenai sinkronisasi data makroekonomi dan realitas finansial di lapangan.
"Bagaimana bapak selaku Menkeu dan pelaku usaha swasta agar angka pertumbuhan ekonomi bisa benar-benar menetas menjadi angka pendapatan riil di dompet masyarakat?" ujar Dewi dengan tegas.
Pertanyaan yang tidak kalah berbobot juga meluncur dari Patik Sinaga, pelajar asal Medan yang tengah menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Patik menyoroti korelasi antara pergerakan pasar modal global dan ketahanan ekonomi domestik secara makro. Ia mempertanyakan apakah penurunan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini bakal menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan apresiasi sekaligus jawaban mendalam untuk menanggapi pola pikir kritis para pelajar tersebut. Menjawab pertanyaan Dewi, Purbaya melontarkan kelakar segar yang menyentil maraknya fenomena analisis keuangan instan tanpa basis data valid di jagat maya saat ini.
"Sehari lihat TikTok berapa jam? Jadi ini ekonom-ekonom TikTok nih," kelakar Purbaya yang langsung memicu gelak tawa riuh dari ribuan audiens di dalam JEC.
Purbaya kemudian menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional saat ini memang masih dalam proses pemerataan secara bertahap pasca-pandemi Covid-19. Ia menegaskan bahwa indikator makroekonomi tidak akan bisa bergerak positif jika kondisi fundamental mikro di masyarakat mengalami keterpurukan.
Sementara untuk menjawab kekhawatiran Patik terkait fluktuasi IHSG, Menkeu memberikan garansi kuat bahwa stabilitas keuangan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang aman. Ia menepis isu liar di masyarakat yang menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan bayang-bayang krisis moneter hebat pada tahun 1997/1998 silam. Pemerintah terus melakukan perbaikan struktur fiskal secara konsisten agar daya beli masyarakat tetap terjaga dari gejolak pasar global.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media