News . 26/05/2026, 10:37 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menerima kunjungan rombongan biksu dari tiga negara Asia Tenggara di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta. Kehadiran para pemuka agama Buddha ini merupakan bagian dari misi spiritual lintas pulau bertajuk Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026.
Pemerintah Daerah DIY menilai aksi jalan kaki ini bukan sekadar aktivitas fisik biasa. Momentum tatap muka langsung tersebut menjadi simbol penguat simpul toleransi dan persaudaraan antarpenduduk di tanah air.
Di hadapan para delegasi, Raja Kraton Yogyakarta ini memaparkan makna mendalam dari pengorbanan para biksu yang selaras dengan falsafah hidup masyarakat Jawa.
"Indonesia Walk for Peace mencerminkan retrospeksi atau sebuah refleksi perjalanan kehidupan. Ia adalah 'niti-laku', menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa, dan merevitalisasinya agar bermakna untuk masa kini dan masa yang akan datang," ungkap Sri Sultan HB X hangat, Senin 25 Mei 2026.
Sultan juga menegaskan bahwa perjalanan spiritual ini merefleksikan spirit nyata dari Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan latar belakang keyakinan justru menjadi kekuatan kolektif yang mengikat keharmonisan bangsa, bukan sebaliknya memecah belah belah persatuan.
Dibalik kemegahan seremoni penyambutan di Kepatihan, tersimpan kisah perjuangan fisik yang sangat menguras air mata dari para peserta. Ketua Panitia Pusat IWFP 2026, Tosin, membeberkan bahwa rombongan ini terdiri dari 57 biksu dengan rincian 43 utusan dari Thailand, empat dari Malaysia, tiga dari Laos, serta didampingi tujuh personal dari Indonesia.
Iring-iringan religius yang dipimpin oleh Biksu Phanarin Anando (31 tahun) ini mengombinasikan ketahanan fisik lintas generasi. Anggota tertua rombongan tercatat berumur 67 tahun, sementara manifesto peserta termuda berada di usia 23 tahun.
Mereka memulai langkah pertama dari Pulau Bali sejak 9 April lalu. Setiap hari, para biksu wajib melahap rute sejauh 30 hingga 40 kilometer di bawah sengatan suhu ekstrem Pulau Jawa yang konsisten bertengger di angka 34 sampai 36 derajat Celsius. Waktu edar mereka di jalanan menghabiskan durasi delapan hingga 10 jam per hari.
Efeknya, cedera anatomis pada bagian kaki menjadi santapan harian yang tidak bisa mereka hindari. Namun, keteguhan iman membuat mereka menolak untuk menyerah atau sekadar menepi dari barisan.
"Kalau saya amati di kakinya itu bisa ada tiga sampai lima jahitan, ini sangat luar biasa. Walaupun terluka dijahit, biasa kan orang istirahat, ini tidak, besok tetap jalan melakukan perjuangan yang tanpa henti," jelas Tosin dengan nada kagum.
Sisi menarik lain yang memantik rasa hormat publik adalah kedisiplinan para biksu dalam menjaga sumpah kesederhanaan hidup (keugarian). Sepanjang rute perjalanan ratusan kilometer, mereka secara konsisten menolak segala bentuk fasilitas mewah yang coba disiapkan oleh pihak panitia penyelenggara.
Alih-alih beristirahat di kamar hotel berbintang yang sejuk, para pertapa ini memilih untuk membaur dengan realitas kehidupan masyarakat lokal di sepanjang jalur yang mereka lalui.
Mereka lebih memilih menggelar alas tidur di area lapangan terbuka, aula gedung pertemuan warga, hingga selasar wihara setempat dengan fasilitas sanitasi seadanya. Sikap bersahaja dan tidak menuntut perlakuan khusus ini menjadi pesan damai tersendiri yang menginspirasi setiap warga yang mereka jumpai di sepanjang jalan menuju Yogyakarta.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media