News . 26/05/2026, 21:53 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Media sosial tengah diramaikan kabar dugaan skandal pemalsuan riset yang menyeret sejumlah periset asal Indonesia dalam konferensi ilmiah internasional di Denmark.
Informasi tersebut pertama kali ramai diperbincangkan setelah muncul unggahan akun Instagram yang menyoroti dugaan praktik manipulasi pada ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, yang berlangsung pada 17–21 Mei 2026.
Konferensi dikenal sebagai forum ilmiah bergengsi mempertemukan peneliti dan pakar penyakit pneumokokus serta pneumonia dari berbagai negara. Dalam unggahan yang viral, disebut adanya dugaan tindakan pemalsuan terorganisasi oleh beberapa peserta asal Indonesia di hadapan ribuan ilmuwan dunia.
“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia,” demikian isi unggahan yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Unggahan itu memaparkan dugaan modus yang dilakukan para pelaku. Salah satunya disebut melakukan pergantian identitas saat sesi presentasi ilmiah. Pelaku diduga menggunakan nama berbeda, mengganti atribut seperti jilbab dan name tag, hingga mempresentasikan riset yang keasliannya dipertanyakan.
Tak hanya itu, akun tersebut juga menuding materi penelitian yang dipresentasikan merupakan hasil fabrikasi atau dibuat menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), termasuk dugaan manipulasi data dan visual penelitian.
“Riset dibuat seolah sangat hebat, padahal diduga tidak pernah ada dan datanya disebut palsu,” tulis akun tersebut.
Narasi lain menyebut dugaan praktik tersebut berkaitan dengan upaya memperoleh travel grant atau bantuan pendanaan perjalanan untuk menghadiri konferensi internasional.
Meski demikian, hingga kini belum terdapat pernyataan resmi dari penyelenggara konferensi terkait tuduhan tersebut.
Di tengah viralnya kasus ini, sejumlah akun media sosial lain turut membagikan daftar nama yang diduga terlibat. Dari empat nama yang beredar, dua di antaranya disebut merupakan alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kabar tersebut memicu perhatian publik, terutama karena menyangkut reputasi akademik dan integritas riset di tingkat internasional.
Menanggapi isu yang berkembang, pihak UNY menyatakan masih melakukan penelusuran internal terhadap dua nama alumni yang disebut dalam unggahan media sosial.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto, membenarkan bahwa nama yang beredar memang tercatat sebagai alumni kampus tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media