News . 27/05/2026, 20:48 WIB

Ketum PP Muhammadiyah Bedah Akar Masalah Korupsi: Akibat Hilangnya Esensi Kurban

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

jogja.fin.co.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pesan mendalam menjelang perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Ia mengajak seluruh umat Muslim untuk merefleksikan kembali makna ibadah kurban agar tidak terjebak dalam pusaran ritual formal semata.

Momentum keagamaan ini harus menjadi motor penggerak untuk menghidupkan kembali spiritualitas takwa dalam seluruh lini kehidupan, mulai dari ranah pribadi hingga kemanusiaan universal.

Haedar menegaskan bahwa substansi utama dari ibadah salat Id maupun penyembelihan hewan kurban adalah pembentukan karakter moral manusia. Ia mengingatkan bahwa Tuhan tidak melihat rupa fisik dari hewan yang dikurbankan, melainkan menilai esensi ketulusan dari para hamba yang melaksanakannya.

Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari manusia yang melaksanakannya.

"Karena itu, substansi Idul Adha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas," ujar Haedar dalam keterangan tertulisnya, Rabu 27 Mei 2026.

Meneladani Revolusi Mental Keluarga Nabi Ibrahim

Dalam narasinya, Haedar membedah bagaimana keteladanan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS merupakan bentuk konkret dari spiritualitas takwa yang revolusioner. Ketiganya memperlihatkan kepasrahan total tanpa batas terhadap perintah Sang Pencipta lewat sebuah pengorbanan yang maha berat.

Ibrahim rela mengorbankan anak kandungnya, Siti Hajar menunjukkan keteguhan iman yang kokoh, dan Ismail menampilkan kepatuhan mutlak seorang anak. Kolaborasi spiritual keluarga ini menjadi cerminan utama bagaimana ketakwaan sejati mampu melahirkan jiwa pengorbanan demi maslahat yang lebih besar.

Dampak dari bekerjanya nilai takwa tersebut akan membebaskan manusia dari kekangan hawa nafsu, egoisme sektoral, serta sifat serakah terhadap duniawi. Dari pembersihan jiwa inilah nantinya muncul sikap ihsan atau dorongan untuk selalu menebar kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya memicu lahirnya kesalehan sosial di tengah masyarakat majemuk.

Kritik Keras Terhadap Korupsi dan Sifat Aji Mumpung

Baca Juga

Lebih lanjut, tokoh intelektual Muslim ini memberikan sentilan keras terhadap berbagai dinamika dan problem kebangsaan yang saat ini melanda Indonesia. Kesenjangan sosial yang melebar, maraknya praktik korupsi, konflik horizontal, hingga suburnya perilaku aji mumpung dinilai berakar dari hilangnya kompas moral dan spiritualitas takwa di dalam jiwa para pelaku. Manusia yang kehilangan kendali iman akan sangat mudah menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu kekuasaan dan ekonomi.

"Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak anti kritik, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat," cetus Haedar secara lugas.

Menurutnya, hasrat eksploitatif untuk menguasai segala sumber daya tanpa batas hanya akan melahirkan kerusakan lingkungan hidup dan merugikan hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu, Indonesia hari ini sangat membutuhkan kebangkitan spiritualitas yang mampu membuahkan kebajikan nyata, termasuk dalam menjaga etika berkomunikasi di ruang digital dan media sosial.

Tantangan Nyata untuk Generasi Muda Indonesia

Secara khusus, Haedar menaruh harapan besar pada pundak generasi milenial, generasi Z, hingga generasi Alfa sebagai pilar penentu masa depan bangsa. Ia meminta kelompok usia muda ini menjadikan spirit Iduladha sebagai fondasi utama dalam membangun karakter diri yang unggul, kompetitif, dan berkemajuan. Generasi masa depan dituntut untuk tidak sekadar taat dalam beragama, melainkan juga harus gandrung akan ilmu pengetahuan, menguasai lini teknologi mutakhir, serta memiliki kemandirian ekonomi.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com