News . 28/05/2026, 18:58 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mulai mengusut dugaan keterlibatan para mantan mahasiswanya dalam skandal pemalsuan karya ilmiah tingkat global. Isu pencatutan nama tersebut mencuat setelah pelaksanaan konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark.
Pihak otoritas kampus mendeteksi ada tiga nama yang memiliki kesamaan identitas dengan catatan alumni mereka. Penyelidikan internal kini terfokus pada validasi data pokok mahasiswa untuk memastikan keabsahan status kelulusan ketiga terduga pelaku.
Manajemen universitas tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan terkait informasi yang beredar luas di jagat maya. Pihak akademisi kini mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam memeriksa berkas dokumen kelulusan guna mencocokkan nama-nama yang dituduh oleh komunitas ilmuwan dunia.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof Nur Hidayanto, mengonfirmasi bahwa tim internal sedang memonitor pergerakan data di lapangan. Kampus mengupayakan penuntasan investigasi ini berjalan dalam waktu singkat agar polemik tidak berlarut-larut.
"Setahu saya ada 3 yang kemarin kami cek ada kesamaan nama dengan alumni kami. Namun sekali lagi kami tetap masih mengklarifikasi alumni kami hingga bisa kami pastikan bertiga ini alumni kami atau bukan. Karena info di sosmed memang harus kami cek dengan teliti," kata Nur Hidayanto, Kamis 28 Mei 2026.
Nur Hidayanto menambahkan bahwa salah satu figur yang diduga terlibat sempat mengunggah pernyataan klarifikasi di media sosial, namun unggahan tersebut kini telah dihapus. Pihak kampus menyatakan siap mengambil tindakan tegas sesuai koridor hukum akademik yang berlaku di tanah air.
"Ke depannya kami tetap ndherek arahan kementerian seperti apa nantinya jika memang terbukti ada permasalahan. Dan sebelumnya tentu akan dibahas bersama pimpinan universitas dan pihak terkait," ujarnya.
Kasus kelam ini pertama kali meledak setelah sebuah akun media sosial membongkar adanya praktik lancung terorganisir oleh delegasi asal Indonesia di forum ISPPD 2026. Forum ilmiah yang berlangsung pada pertengahan Mei tersebut merupakan salah satu panggung paling prestisius bagi para pakar penyakit pneumonia di dunia.
Modus kejahatan akademik ini tergolong rapi karena melibatkan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan fabrikasi data dan menyusun narasi hasil penelitian fiktif. Pelaku mengelabui dewan juri dengan presentasi yang terlihat luar biasa, padahal eksperimen fisik dari proyek tersebut tidak pernah ada.
Selain memalsukan isi riset, oknum peneliti tersebut juga terindikasi memalsukan identitas fisik. Pelaku menggunakan taktik berganti-ganti nama, tanda pengenal, hingga merubah penampilan demi mengelabui panitia saat sesi presentasi di mimbar utama.
Motif utama dari perbuatan menyimpang ini diduga demi memburu fasilitas travel grant atau bantuan dana perjalanan luar negeri secara cuma-cuma. Dampak dari tindakan mengejar keuntungan pribadi ini dinilai mencoreng reputasi dan nama baik komunitas ilmiah Indonesia di tingkat internasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media