News . 31/05/2026, 16:25 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) merekapitulasi total aktivitas pemotongan hewan kurban sepanjang perayaan keagamaan tahun ini. Otoritas mencatat sebanyak 26.963 ekor komoditas ternak telah disembelih masyarakat mulai hari pertama Idul Adha hingga batas akhir hari Tasyrik.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, menjelaskan proses pemotongan ternak di seluruh wilayah Kabupaten Bantul berlangsung sejak tanggal 27 hingga 30 Mei 2026. Pihaknya menghimpun data volume tersebut secara berkala menggunakan metode hitung cepat (quick count) harian di lapangan.
"Hewan kurban terbanyak yang disembelih warga Bantul yakni domba dengan total 15.068 ekor," kata Joko di Yogyakarta, Sabtu 30 Mei 2026.
Selain didominasi oleh jenis domba, tim hitung cepat pemerintah setempat mengklasifikasikan kontribusi jenis ternak potong lainnya. Berdasarkan rekapitulasi data mutakhir, warga Bantul menyembelih sebanyak 6.364 ekor sapi dan 5.531 ekor kambing. Mayoritas masyarakat melaksanakan pemotongan komoditas tersebut pada hari pertama serta hari kedua Tasyrik.
Aktivitas keagamaan ini tersebar secara masif pada ratusan wilayah rukun tetangga dan kelompok pemukiman. DKPP Bantul mendeteksi operasional pemotongan hewan tersebut menyebar pada ribuan titik.
"Total titik penyembelihan ada 2.128 lokasi di seluruh Bantul," ujar Joko menerangkan gambaran sebaran area kerja pemotongan.
Selain meliput kuantitas populasi ternak terpotong, personel lapangan juga melaporkan dinamika kesehatan organ dalam hewan. Petugas teknis menemukan indikasi sebaran penyakit cacing hati atau Fasciola pada sejumlah hewan yang telah terjagal.
Berdasarkan laporan pemeriksaan klinis posmortem, infeksi parasit tersebut menjangkiti ratusan ternak. Otoritas merinci penemuan tersebut berada pada tubuh satwa kurban.
"352 ekor sapi, 31 ekor kambing, dan 110 ekor domba terindikasi Fasciola," kata Joko secara transparan memaparkan data medis lapangan.
Kendati mendeteksi ratusan kasus parastologi, Joko meminta publik dan panitia kurban tidak panik atau memunculkan kekhawatiran berlebih. Kasus infeksi Fasciola merupakan siklus penyakit endemis yang jamak mengemuka setiap tahun selama penyelenggaraan ibadah kurban.
Joko memastikan bahwa karkas atau daging dari hewan yang mengidap cacing hati tetap layak dan aman untuk didistribusikan kepada masyarakat. Syarat utamanya adalah panitia wajib memotong dan membuang area organ hati yang rusak agar tidak bercampur dengan komoditas konsumsi.
"Bagian yang terkena luka cacing hati itu dipotong saja, tidak usah dikonsumsi," ucapnya memberikan instruksi teknis pembersihan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media