News . 31/05/2026, 11:31 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Teka-teki mengenai fenomena teror api misterius yang menghanguskan puluhan barang di rumah Mutfiana, warga Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, mulai menemukan titik terang.
Hasil investigasi terbaru dari Tim Geolog Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta menunjukkan indikasi kuat bahwa kebakaran berulang tersebut tidak dipicu korsleting listrik, melainkan berkaitan dengan aktivitas geologi masa lalu.
Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, menjelaskan bahwa sumber rembesan gas yang memicu kebakaran diduga berasal dari endapan bekas rawa purba.
Tim ahli menemukan titik konsentrasi semburan gas di area sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah korban.
"Kami menemukan gelembung-gelembung gas yang menjadi indikasi kuat sebagai gas metana atau CH4. Titik tersebut berada tepat di bawah jembatan Jalan Nepen," ujar Basuki saat melakukan observasi lapangan di Sleman.
Tim geolog mendeteksi singkapan batuan berwarna gelap di dasar genangan air yang mengeluarkan gelembung udara. Karakteristik batuan tersebut diduga menjadi media penyimpanan gas metana alami di bawah permukaan tanah wilayah Seyegan.
Selain menemukan pusat semburan, tim juga mengidentifikasi adanya struktur geologi berupa jalur retakan atau patahan lokal. Jalur tersebut membentang ke arah utara menuju kawasan permukiman warga.
"Kami mendapatkan indikasi kuat adanya jalur patahan dan retakan tanah yang memicu migrasi gas metana hingga masuk ke area rumah warga," kata Basuki.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik. Berdasarkan pengukuran awal, tekanan gas dari bawah tanah tergolong rendah dan dinilai tidak memiliki daya ledak tinggi.
Kondisi tersebut membuat lingkungan sekitar mulai berangsur stabil dan relatif aman dari potensi ledakan besar.
Fenomena munculnya api secara tiba-tiba di dalam ruangan diduga berkaitan dengan sifat fisik gas metana yang terperangkap.
Anggota tim peneliti, Sarju, menjelaskan bahwa gas yang merembes ke permukaan kemungkinan terserap ke benda-benda berpori di dalam rumah, seperti pakaian, kasur, hingga sofa.
"Material berpori memiliki kemampuan mengikat gas dalam volume tertentu. Ketika akumulasi gas metana mencapai titik tertentu dan berinteraksi dengan oksigen di ruang terbuka, material tersebut dapat memicu nyala api," ujar Sarju.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media