News . 03/06/2026, 14:07 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Rencana besar Pemerintah Pusat untuk menghidupkan kembali aktivitas penerbangan sipil komersial di Bandara Adisutjipto Yogyakarta memicu berbagai respons dari pelaku usaha. Kebijakan yang digagas oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tersebut diprediksi bakal mengubah peta konstelasi ekonomi dan bisnis di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Sleman menyambut positif keputusan politik tersebut. Letak geografis bandara yang berada di pangkuan bumi Sleman, ditambah interkoneksi langsung dengan titik keluar Exit Tol Kalasan, menempatkan wilayah ini pada posisi yang sangat diuntungkan secara logistik dan aksesibilitas.
Kendati memberikan dukungan penuh, dunia usaha memberikan catatan kritis yang cukup tajam. Ketua Kadin Sleman, Yudi Prihantana, mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi potensi benturan pasar yang tidak sehat antara Bandara Adisutjipto dengan Yogyakarta International Airport (YIA) yang berada di Kulon Progo. Karena itu perlu digagas pembagian layanan penerbangan pada kedua bandara tersebut.
“Kami berharap Adisutjipto dapat fokus melayani penerbangan domestik, penerbangan perintis, serta kargo UMKM. Sementara YIA tetap menjadi gerbang penerbangan internasional. Jangan sampai muncul persepsi persaingan antara Sleman dan Kulon Progo karena keduanya sama-sama penting bagi DIY,” ujar Yudi Prihantana dalam keterangan resminya pada Rabu, 3 Juni 2026.
Yudi menegaskan bahwa integrasi dan pembagian kasta operasional yang tegas menjadi prasyarat mutlak. Tanpa adanya regulasi yang jelas dari Kementerian Perhubungan, kehadiran kembali penerbangan komersial di Adisutjipto dikhawatirkan dapat menggerus keterisian penumpang di YIA Kulon Progo yang investasinya menelan biaya sangat besar.
Sebaliknya, jika fungsi kedua bandara berhasil berjalan beriringan tanpa saling menjatuhkan, dampak ekonomi terhadap sektor riil di Sleman akan berlipat ganda. Mobilitas pelancong bisnis dan wisatawan yang kembali mendarat di dekat pusat kota diyakini langsung mengerek angka keterisian kamar hotel serta memulihkan geliat industri kreatif.
“Ini kabar baik untuk denyut ekonomi di Kabupaten Sleman. Dengan Adisutjipto aktif lagi, UMKM Sleman mulai dari pelaku kuliner Kaliurang, pengelola hotel dan penginapan, sampai petani salak pondoh serta industri kreatif lainnya akan mendapatkan akses pasar yang lebih cepat dan biaya logistik yang lebih murah,” kata Yudi menjelaskan.
Selain menggarisbawahi masalah pembagian wilayah terbang dengan YIA, asosiasi pengusaha ini menyodorkan dua tuntutan lain kepada otoritas pengelola bandara. Kadin Sleman mendesak agar perluasan operasional bandara ini berdampak langsung pada pengurangan angka pengangguran di wilayah penyangga operasional penerbangan.
Pihak manajemen bandara diminta memberikan karpet merah bagi warga lokal dalam bursa penyerapan tenaga kerja baru yang muncul akibat reaktivasi ini. Warga sekitar kawasan Maguwoharjo dan sekitarnya tidak boleh hanya menjadi penonton dari deru mesin pesawat komersial.
"Warga sekitar bandara harus mendapatkan manfaat langsung. Kesempatan kerja yang muncul harus memberikan prioritas kepada tenaga kerja lokal. Kami Kadin Sleman siap berkolaborasi," tutur Yudi.
Tuntutan terakhir berfokus pada pelibatan komoditas lokal dalam rantai pasok logistik bandara. Kadin Sleman menyatakan kesiapannya untuk memimpin proses kurasi produk-produk kerajinan, kuliner khas, hingga jasa boga agar dapat masuk ke dalam ekosistem tenant resmi bandara. Langkah pengawasan mutu tersebut sengaja disiapkan agar kualitas produk buatan usaha mikro Sleman mampu memenuhi standar baku industri penerbangan nasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media