News . 04/06/2026, 16:18 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) terus berinovasi dalam mengemas narasi sejarah agar lebih memikat bagi generasi muda.
Guna memperingati momentum historis pulangnya pemerintahan Republik Indonesia ke ibu kota darurat, Pemkab Sleman siap menggelar agenda Peringatan Hari Bersejarah “Kembalinya Jogja”.
Alih-alih menggunakan metode ceramah konvensional yang kaku, otoritas kebudayaan setempat bakal menghidupkan kembali memori perjuangan tersebut lewat pementasan drama teatrikal atau sosiodrama interaktif.
Langkah ini menjadi bentuk tanggung jawab moral pemerintah daerah dalam merawat, melestarikan, sekaligus mewariskan nilai-nilai nasionalisme kepada ekosistem pelestari sejarah masa kini.
Pendekatan komunikatif ini sengaja dipilih agar substansi perjuangan diplomasi masa lalu dapat bertransformasi menjadi media edukasi publik yang relevan dengan dinamika kehidupan Gen Z dan Milenial.
"Peringatan Hari Bersejarah Kembalinya Jogja ini hadir sebagai media edukasi publik yang mengedepankan pendekatan sejarah yang partisipatif, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini," kata Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dwi Haryadi, SP, M.Si. di Sleman, Kamis 4 Juni 2026.
Sajian utama yang paling dinantikan dalam peringatan ini adalah pementasan sosiodrama bertajuk "Kembalinya Jogja". Untuk menghadirkan visualisasi yang akurat dan emosional,
Dinas Kebudayaan Sleman berkolaborasi penuh dengan Komunitas Jogjakarta 45 sebagai mitra pelaksana lapangan. Komunitas ini sudah lama dikenal publik luas berkat konsistensi mereka dalam merekonstruksi peristiwa-peristiwa besar mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Melalui pendekatan teatrikal yang dinamis, para aktor sejarah ini akan mengajak penonton melintasi lorong waktu menyaksikan lima fragmen krusial. Alur pertunjukan akan menggambarkan situasi mencekam di Yogyakarta pasca-Agresi Militer Belanda II, jalinan perjuangan diplomasi delegasi Indonesia di tingkat internasional, hingga besarnya dukungan rakyat Yogyakarta terhadap eksistensi Republik Indonesia.
Pementasan tersebut juga merekam detik-detik kembalinya jajaran pemerintahan pusat ke Yogyakarta serta refleksi nilai persatuan bagi generasi masa kini. Seluruh rangkaian pertunjukan ini akan berpusat di kawasan luar ruangan Museum Monumen Yogya Kembali (Monjali) pada Selasa, 23 Juni 2026 mendatang.
Selain menyuguhkan pementasan drama kolosal, panitia penyelenggara juga mematangkan ruang diskusi ilmiah melalui sesi Sarasehan Sejarah. Diskusi ini akan menghadirkan tiga narasumber ahli dari latar belakang akademisi, budayawan, serta pegiat museum.
Terdapat tiga topik utama yang menjadi pembahasan, yakni bedah sejarah kembalinya Jogja dari perspektif diplomasi, metode merawat memori kolektif bangsa, hingga optimalisasi komunitas sejarah sebagai ruang belajar kebangsaan yang inklusif.
Dwi Haryadi menegaskan bahwa target sasaran dari perhelatan akbar ini berfokus pada pelibatan aktif komponen pemuda dan pendidik. Pihak panitia mengundang ratusan peserta yang terdiri dari pelajar SMP/SMA, mahasiswa, guru sejarah, seniman, organisasi kepemudaan, serta masyarakat umum secara terbuka.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media