Eksplore Jogja . 11/06/2026, 21:45 WIB

Suasana Syahdu LP Wirogunan: Saat Gema Talbiyah dan Isak Tangis Ratusan Napi Berpakaian Ihram Pecah

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

jogja.fin.co.id -  Lantunan talbiyah menggema dari halaman tengah Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Wirogunan, Yogyakarta, Sabtu 6 Juni 2026, pagi. Suasana yang biasanya identik dengan tembok tinggi dan jeruji besi berubah syahdu ketika sekitar 100 warga binaan mengenakan kain ihram putih dan mengikuti manasik haji layaknya di Tanah Suci.

Tanpa alas kaki, mereka berjalan perlahan menuju area replika Ka’bah. Sebagian menundukkan kepala, beberapa lainnya tampak berkaca-kaca. Di antara peserta, ada warga binaan bertubuh penuh tato yang tetap khusyuk mengikuti setiap prosesi.

Kalapas LP Kelas IIA Wirogunan Marjiyanto menyebut para warga binaan itu sebagai “santri”. Mereka menjalani seluruh rangkaian manasik dengan penuh penghayatan, mulai dari wukuf, melempar jumrah, tawaf, hingga sa’i.

Sebelum prosesi dimulai, para peserta berkumpul di Masjid Al Fajar LP Wirogunan. Mereka mendapatkan pengantar tentang khutbah wukuf Arafah dari Ustadz Munif Tauhid.

Suasana berubah semakin khidmat saat seluruh peserta bersama-sama melantunkan selawat. Tak lama kemudian, gema talbiyah mulai terdengar berulang-ulang dari mulut para warga binaan. Tangis pun perlahan pecah.

Beberapa warga binaan tampak menyeka air mata ketika melafalkan talbiyah. Nuansa haru terasa kontras di tengah lingkungan lapas yang selama ini identik dengan hukuman dan keterbatasan.

Direktur Utama Latifa Haramain, H. Taufik Ridwan, memandu peserta mengambil simbol “kerikil” berupa biji jagung untuk prosesi lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah.

Prosesi itu dijalani penuh semangat. Sejumlah warga binaan terlihat sangat emosional saat melempar jumrah karena memaknai ritual tersebut sebagai simbol melawan hawa nafsu, kesalahan, hingga godaan hidup yang membawa mereka masuk penjara. Bahkan, ada peserta yang menangis histeris saat prosesi berlangsung.

Menurut panitia, sebagian warga binaan merasa ritual itu menjadi ruang refleksi untuk menyesali masa lalu dan memperbaiki diri.

Setelah melempar jumrah, peserta memasuki area replika Ka'bah untuk menjalani tawaf dan dilanjutkan sa’i. Di momen inilah suasana haru kembali terasa kuat.

Baca Juga

Saat mengelilingi replika Ka'bah sambil berdoa, banyak warga binaan mengaku seolah benar-benar berada di Makkah. Beberapa tampak meneteskan air mata dalam diam.

“Saya sangat berharap nanti setelah keluar dari Wirogunan bisa ke Tanah Suci, baik untuk umrah maupun berhaji,” ujar Mery, salah satu warga binaan yang telah menghafal 13 juz Al-Qur’an.

Di LP Wirogunan, tidak sedikit warga binaan memanfaatkan waktu dengan memperdalam ilmu agama. Sebagian di antaranya diketahui telah menghafal lebih dari lima juz Al-Qur’an. Bahkan, ada yang disebut telah khatam membaca Al-Qur’an hingga 217 kali.

Ustadz Munif Tauhid mengatakan kehidupan di dalam lapas tidak selalu identik dengan penderitaan seperti yang sering dibayangkan masyarakat.

Menurut dia, banyak warga binaan justru memiliki ruang lebih besar untuk belajar agama karena hampir setiap hari ada kajian Islam.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com