Eksplore Jogja . 14/06/2026, 21:28 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Indonesia’s Horse Racing (IHR) Paku Alam Cup 2026 menghadirkan warna berbeda di Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul, Minggu 14 juni 2026. Di tengah persaingan 155 ekor kuda dari 10 provinsi, panitia membuka satu kelas yang terasa sangat dekat bagi warga Yogyakarta: kelas khusus lokal DIY.
Kelas ini tidak bisa diikuti sembarang peserta. Kadipaten Pakualaman mengusulkan aturan ketat, yakni seluruh peserta beserta pemilik kuda wajib berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Keputusan menghadirkan kelas lokal itu menjadi ruang khusus bagi peternak, pemilik, dan komunitas pacuan kuda tradisional di DIY agar tetap memiliki panggung di tengah dominasi tim-tim besar dari berbagai daerah.
Ketua Komisi Pacu Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) Muchammad Munawir mengatakan kelas lokal DIY sengaja dihadirkan untuk membangkitkan kembali antusiasme masyarakat terhadap olahraga pacuan kuda di Yogyakarta.
“Tujuan adanya kelas lokal agar ekosistem pacuan kuda di Yogyakarta kembali antusias,” kata Munawir di Kompleks Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul.
Menurut dia, usulan kelas lokal tersebut datang langsung dari Kadipaten Pakualaman. Karena itu, aturan peserta dibuat khusus agar benar-benar mencerminkan identitas daerah.
“Pemilik kuda dari DIY, jadinya betul-betul lokal DIY,” ujar Munawir menegaskan.
Pada kelas lokal DIY tahun ini, terdapat lima kuda milik warga asli Yogyakarta yang turun bertanding, yakni Berkah Sari, Tarzan, Masih Rindu 99, Belova, dan Putra Audy.
Keberadaan kelas ini dinilai memberi kesempatan bagi kuda-kuda lokal untuk tampil kompetitif tanpa harus langsung berhadapan dengan dominasi peserta nasional yang memiliki sumber daya lebih besar.
Bagi pecinta pacuan kuda di DIY, kemunculan nama-nama kuda lokal juga menjadi daya tarik tersendiri. Selain memperkuat identitas daerah, kelas tersebut membuka ruang apresiasi terhadap peternak dan pemilik kuda tradisional yang selama ini tetap menjaga eksistensi olahraga berkuda.
Di luar kelas lokal, IHR Paku Alam Cup 2026 juga memperebutkan Piala Paku Alam pada kelas terbuka Handicap 2.000 meter dengan status piala bergilir.
Munawir menjelaskan trofi tersebut dapat menjadi piala tetap apabila ada peserta yang mampu merebut kemenangan tiga kali berturut-turut.
“Kalau menang tiga kali berturut-turut, itu menjadi piala tetap,” katanya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media