News . 15/06/2026, 11:07 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak wisata sunyi yang diburu turis asing, khususnya dari Eropa, Amerika, dan Australia. Wisatawan mancanegara ini datang bukan untuk mengejar keramaian, melainkan pengalaman tenang berbasis alam dan kehidupan desa.
Dinas Pariwisata Bantul mencatat, tren kunjungan wisatawan asing ke wilayah ini menunjukkan pola konsisten. Mereka lebih memilih destinasi jauh dari hiruk pikuk kota, dengan atmosfer alam terbuka dan interaksi langsung bersama masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi, mengungkapkan karakter wisatawan cenderung berbeda dengan pasar wisata domestik pada umumnya.
“Wisatawan dari Eropa, Amerika, dan Australia lebih banyak mencari suasana yang tenang, tidak padat, dan dekat dengan alam,” ungkap Saryadi, Minggu 14 Juni 2026.
Menurutnya, preferensi itu sejalan dengan konsep quality tourism, di mana pengalaman menjadi faktor utama dibanding jumlah kunjungan atau keramaian destinasi.
Sejumlah kawasan di Bantul mulai dikenal luas sebagai pusat wisata sunyi yang diminati turis asing. Mangunan menjadi salah satu destinasi paling populer, terutama karena lanskap hutan pinus dan udara sejuk yang mendominasi kawasan tersebut.
Imogiri juga masuk dalam daftar favorit wisatawan mancanegara. Wilayah ini menawarkan kombinasi alam perbukitan, suasana tenang, dan akses ke berbagai titik wisata berbasis komunitas.
Selain itu, Pajangan dan Kebon Agung turut memperkuat peta wisata sunyi Bantul. Dua kawasan ini dikenal dengan desa wisata yang masih menjaga aktivitas tradisional masyarakat, sehingga memberi pengalaman langsung bagi wisatawan asing.
Keempat kawasan tersebut kini menjadi titik utama yang sering muncul dalam preferensi turis Eropa dan Amerika saat berkunjung ke Bantul.
Wisatawan mancanegara yang ke Bantul tidak hanya berkunjung singkat. Banyak dari mereka memilih tinggal lebih lama di desa wisata, mengikuti aktivitas warga, hingga menikmati ritme kehidupan lokal.
Saryadi menyebut pola tersebut sebagai bagian dari perubahan tren wisata global.
“Wisatawan tersebut menikmati keseharian masyarakat, bahkan hidup bersama warga di desa wisata,” imbuh Saryadi.
Pendekatan ini membuat Bantul tidak hanya menjadi tempat singgah, tetapi ruang pengalaman lebih dalam bagi wisatawan asing.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media