Selasa, 14 Juli 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Kisah Adimas Rahardian, Mantan Bankir Jogja yang Sukses Jadi Juragan Panahan Modal Rp5 Juta

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
13/07/2026, 13:14 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Kisah Adimas Rahardian, Mantan Bankir Jogja yang Sukses Jadi Juragan Panahan Modal Rp5 Juta

Adimas Rahardian saat menunjukkan salah satu busur panah standar kompetisi di gerai toko First Archery Shop miliknya di Sleman.Foto:FAS

jogja.fin.co.id - Perjalanan bisnis sering kali bermula dari ketidaksengajaan. Hal ini dialami oleh Adimas Rahardian, pemilik First Archery Shop, yang sukses mengubah hobi memanah menjadi ladang bisnis menjanjikan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adimas pertama kali mengenal olahraga memanah pada 2016 karena sering meminjam alat milik temannya. Tertarik dengan olahraga ini, ia kemudian membeli busur import untuk standar kompetisi dan bergabung dengan Sindu Archery Club.

"Niat awal hanya untuk hobi dan olahraga, walaupun sesekali ikut pertandingan," kenang Adimas saat menceritakan awal mulanya mencintai olahraga ini.

Karena dinilai rajin berlatih, pelatih di klubnya menyarankan Adimas mengikuti sertifikasi khusus pelatih yang diadakan resmi oleh Persatuan Panahan Indonesia (Perpani). Setelah mengantongi sertifikat tersebut, ia justru lebih sering melatih orang lain untuk belajar memanah.

Putuskan Resign dan Hadapi Tantangan Pasar

Mengendus adanya peluang yang jarang dilirik orang, Adimas mengambil keputusan besar pada 2018. Ia memilih resign dari posisinya sebagai pegawai bank demi merintis usaha penjualan alat panahan.

Langkah awalnya dimulai dengan modal Rp5 juta untuk menyediakan stok busur, anak panah, quiver (tas anak panah), hingga bowbag (tas busur). Pada masa awal berdiri, kompetitor bisnis sejenis terhitung masih sangat sedikit. Namun, tantangan terbesarnya berada pada sektor pemasaran.

"Tantangannya dalam marketing, karena panahan tidak sepopuler olahraga lain," kata Adimas.

Ia memutar otak dengan mencetak brosur, membuat situs web resmi www.tokopanah.com, serta aktif mengemas konten edukatif di media sosial. Strategi ini rupanya membuahkan hasil manis.

Mandiri Memproduksi Brand Sendiri

Baca Juga

Memasuki periode 2019-2020, gelombang permintaan alat panahan melonjak tinggi. Adimas bergerak cepat dengan memproduksi aksesori sendiri melalui sistem maklon di bawah bendera mereknya, "zafa java".

Merek lokal miliknya kini memproduksi pelindung jari (fingertab), pelindung jempol (thumb glove), pelindung lengan (armguard), hingga buku nilai (scoring book) dengan berbagai motif untuk anak-anak dan dewasa.

Dalam sebulan, First Archery Shop rata-rata mampu menjual hingga 10 busur dan ratusan aksesori. Produk yang paling laris di pasaran adalah anak panah berbahan fiber serta alat pelindung diri pemanah.

Untuk menyuplai produk lokal, Adimas bermitra dengan perajin dari berbagai daerah seperti Bandung, Sukabumi, Garut, Probolinggo, Malang, dan Klaten. Ia juga menggandeng perajin tradisional lokal Jogja khusus untuk memproduksi busur Jemparingan khas Mataram beserta bandul sasarannya.

Kemitraan lokal ini menjadi penyelamat di tengah situasi global yang tidak menentu. Pasalnya, pasokan busur dan anak panah impor asal Korea, China, dan USA kini mengalami kenaikan harga yang signifikan akibat gejolak nilai tukar dolar serta situasi geopolitik dunia.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja