Melanjutkan Gagasan HB IX: Sri Sultan HB X Dorong Pramuka Jadi Pelopor Swasembada Pangan
Sri Sultan Hamengku Buwono X memimpin Apel Besar Hari Pramuka ke-65 Tingkat DIY di Alun-alun Wonosari Gunungkidul.Foto:IG@humasjogja
jogja.fin.co.id - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Gerakan Pramuka tidak berhenti pada kegiatan rutin kepanduan. Sultan menantang seluruh anggota Pramuka DIY mengambil peran aktif menciptakan ketahanan pangan daerah.
Pesan tegas ini disampaikan Sultan saat menjadi Pembina Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat DIY di Alun-alun Wonosari, Gunungkidul, Sabtu 22 Agustus 2026. Acara ini diikuti sekitar 6.610 peserta dari berbagai tingkatan Kwartir se-DIY.
Sultan menekankan pentingnya penguatan Lumbung Mataraman sebagai basis kerja Pramuka. Menurutnya, pekarangan rumah harus diubah menjadi ruang produksi pangan. Keluarga menjadi simpul utama, sementara kalurahan bertindak sebagai basis kemandirian.
"Ketika anak-anak Pramuka menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, atau mengajak sesama tidak membuang makanan, mereka sedang ikut menjaga masa depan bangsa," ujar Sultan.
Baca Juga
Arah kebijakan pangan ini merujuk pada gagasan bersejarah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo tahun 1971, HB IX menyampaikan pidato terkenal berjudul The Trend in Scouting. Saat itu, HB IX menegaskan Pramuka harus dididik menjadi manusia pembangunan yang andal, bukan sekadar warga negara yang baik.
Sultan HB X menilai prinsip tersebut sangat relevan menghadapi ancaman krisis pangan global saat ini. Pembina Pramuka diminta mengenalkan proses produksi pangan sejak dini kepada para anggota.
"Pramuka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang baik, tetapi juga manusia pembangunan yang andal," tegas Sultan mengutip pemikiran sang ayah.
Sultan meminta jajaran Kwartir menjadikan Lumbung Mataraman sebagai laboratorium sosial. Anggota Pramuka diajarkan memahami tanah, mengelola benih, menghemat air, hingga menghormati kerja keras petani.
"Batu karst mengajarkan keteguhan. Pekarangan mengajarkan kemandirian. Pramuka mengajarkan pengabdian," kata Sultan.
Gerakan ini membawa kembali laku hidup masyarakat Mataram. Prinsip utamanya adalah mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan (makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan). Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana diterapkan langsung lewat aksi pemulihan kesuburan lahan dan penyelamatan lingkungan.
Baca Juga
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengapresiasi penunjukan wilayahnya sebagai pusat peringatan Hari Pramuka ke-65. Karakter wilayah Gunungkidul yang berbatu dan sering mengalami kemarau panjang dinilai tepat menjadi simbol keteguhan anggota Pramuka.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 DIY mengusung tema Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045. Acara ini dihadiri Ketua Kwarda DIY GKR Hayu, jajaran Forkopimda, serta para pimpinan Kwartir Cabang se-DIY.
Sebagai penutup rangkaian apel, Sultan menyerahkan bibit tanaman secara simbolis kepada seluruh Ketua Majelis Pembimbing Cabang untuk ditanam di wilayah masing-masing.