Eksplore Jogja . 23/09/2026, 18:58 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Peta pariwisata Kabupaten Sleman kembali mencatatkan hasil positif dalam ajang penganugerahan tingkat regional. Dua desa wisata di wilayah ini sukses memboyong penghargaan bergengsi berkat konsistensi tata kelola berbasis komunitas yang terus dikembangkan secara berkelanjutan.
Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Pariwisata DIY menyelenggarakan penganugerahan Lomba Desa dan Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026 di Hotel Grand Rohan, Bantul, Rabu 23 September 2026.
Kabupaten Sleman menempatkan Desa Wisata Garongan di Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, sebagai Juara 3 dengan perolehan skor 5.260. Selain itu, Desa Wisata Pulesari di Kapanewon Turi juga mengamankan Kategori Khusus dengan raihan dampak ekonomi terbesar berbekal skor 5.100.
Bupati Sleman Harda Kiswaya memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pengelola desa wisata tersebut. Menurutnya, capaian ini membuktikan kerja keras warga dalam menggerakkan roda perekonomian lokal membuahkan hasil nyata.
"Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus pemicu semangat bagi seluruh pengelola desa wisata di Kabupaten Sleman," ujar Harda.
Ajang penghargaan ini bukan sekadar kompetisi perolehan kejuaraan tahunan. Dinas Pariwisata DIY merancang kegiatan tersebut sebagai instrumen evaluasi terpadu untuk mengukur kesiapan tata kelola, pelestarian lingkungan, dan dampak ekonomi di tingkat tapak.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Eling Priswanto, menjelaskan bahwa sektor pariwisata desa kini bergeser menjadi ekosistem holistik.
Melalui proses penilaian ketat tim juri pentahelix sejak Mei hingga Agustus 2026, desa wisata terbaik dipersiapkan naik kelas menuju standar internasional Community-Based Tourism (CBT) ASEAN.
"Pengembangan desa wisata saat ini bergeser dari sekadar kumpulan usaha lokal menjadi satu kesatuan ekosistem kepariwisataan yang holistik.
Melalui kompetisi yang sehat ini, perwakilan terbaik dipersiapkan naik kelas menuju sertifikasi internasional berstandar Community-Based Tourism (CBT) ASEAN," ujar Eling.
Pendapat senada disampaikan Ketua Dewan Juri Lomba Desa dan Kampung Wisata DIY 2026, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Ia menekankan bahwa esensi utama kompetisi terletak pada kemampuan komunitas mengelola potensi lokal secara mandiri.
"Lomba ini merupakan instrumen pembelajaran, evaluasi, sekaligus peningkatan mutu pengelolaan destinasi. Yang dinilai bukan hanya keindahan lanskap atau banyaknya wisatawan, tetapi kemampuan komunitas dalam mengelola potensi lokal, membangun kelembagaan yang sehat, serta memastikan manfaat pariwisata kembali kepada masyarakat," tutur GKR Bendara.
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan prinsip utama Community-Based Tourism menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Warga memiliki ruang penuh untuk merencanakan, mengelola, dan mengambil keputusan atas ruang hidup mereka.
Pariwisata yang ideal harus mampu menjaga kohesi sosial dan melindungi lingkungan sekitar. Pemerintah provinsi berharap ajang tahunan ini berfungsi sebagai sarana pembelajaran antarwilayah bagi pengelola destinasi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media