Menepis Stigma, Sarkem Fest 2026 Ubah Wajah Pasar Kembang Jadi Ruang Kreatif
Sarkem Fest 2026 hadir di Pasar Kembang Yogyakarta untuk mengubah stigma negatif kawasan malam menjadi pusat seni, budaya, dan panggung UMKM lokal.
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp Follow
jogja.fin.co.id - Selama bertahun-tahun, ketika mendengar kata Sarkem atau Pasar Kembang, benak publik kerap langsung tertuju pada citra negatif sebagai kawasan hiburan malam dan lokalisasi di jantung Kota Yogyakarta.
Stigma sosial yang melekat di ruang publik dan media sosial tersebut seolah menutupi denyut kehidupan lain yang jauh lebih dinamis di perkampungan padat penduduk itu.
Kini, narasi itu perlahan mencoba dibalik melalui perhelatan Sarkem Fest 2026 di sepanjang pinggir jalan Pasar Kembang.
Bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-270 Kota Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta menyulap kawasan ini menjadi pusat perjumpaan seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
Baca Juga
Supervisor Sarkem Fest 2026, Arif Efendi, secara terbuka mengakui bahwa festival ini lahir dari sebuah keresahan bersama di ruang digital. Setiap kali warganet mengetik kata kunci tersebut di mesin pencari atau media sosial, informasi yang mendominasi umumnya berkisar pada hal-hal kontroversial.
"Sarkem fest kali ini, dalam rangka ulang tahun Jogja ke-270 ini dilahirkan karena keresahan kami," tuturnya.
Dengan adanya Sarkem Fest harapannya Sarkem lebih dikenal karena budaya dan sejarah panjanganya.
"Orang buka medsos, cari 'Sarkem', maka yang muncul adalah kegiatan budaya, hiburan, dan sebagainya. Ya UMKM. Oleh karena itu, tepat kalau di Jogja diperbanyak event-event yang menjadi daya tarik," ujar Arif.
Ruang Kolektif Lewat Lintas Waktu Malioboro
Mengusung tema “Lintas Waktu Malioboro” dengan tajuk “Cerita Kereta, Rasa, dan Karya”, festival yang berlangsung pada 24 hingga 31 Oktober 2026 ini menghadirkan napas baru bagi kawasan di selatan Stasiun Tugu tersebut.
Baca Juga
Kawasan yang dulunya pada era kolonial dikenal sebagai tempat penimbunan kayu jati atau balokan untuk bahan bakar lokomotif uap, kini dihidupkan kembali sebagai ruang publik yang inklusif.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, saat membuka acara secara resmi menyatakan bahwa kawasan Pasar Kembang menyimpan arsip sejarah perjalanan kota yang sangat panjang sebagai titik perlintasan wisatawan.
"Tema Lintas Waktu Malioboro ini menarik karena kawasan Malioboro, termasuk Pasar Kembang, menyimpan begitu banyak cerita. Tempat perlintasan para wisatawan yang naik maupun turun kereta. Sebagai ruang perjumpaan, tentu saja ada banyak dinamika yang terjadi di kawasan Pasar Kembang," kata Budi Santosa Asrori saat meresmikan pembukaan festival.
Ia menambahkan, unsur cerita, rasa, dan karya dalam perhelatan ini berfungsi mempertemukan kekayaan kuliner lokal serta memperluas ruang gerak pelaku usaha kecil.
Pihaknya ingin memastikan bahwa pembangunan identitas pariwisata kota tidak dikerjakan secara sepihak.