Kabar Duka: Jemaah Haji Asal Temon Kulon Progo Wafat di Makkah Usai Umrah Sunnah
Suasana jemaah haji saat melaksanakan ibadah di Masjidil Haram Makkah dengan latar belakang bangunan suci.Foto:Unsplash@haidan
jogja.fin.co.id – Kabar duka menyelimuti para jemaah haji asal Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seorang jemaah pria berinisial NH (56), warga Kapanewon Temon, dilaporkan meninggal dunia saat menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci pada Jumat 8 Mei 2026 dini hari waktu setempat.
Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit An-Nur, Makkah, setelah sempat mendapatkan perawatan medis. Kasi Pembinaan Layanan Haji dan Umrah Kantor Kemenag Kulon Progo, Kholistin Arifiyani, mengonfirmasi peristiwa tersebut dan menyebutkan bahwa almarhum diduga mengalami serangan jantung akibat kondisi fisik yang terlalu lelah.
"Menurut dokter kloter serangan jantung karena kelelahan," ujar Kholistin saat memberikan keterangan kepada awak media.
Kronologi dan Riwayat Kesehatan
Sebelum insiden tersebut terjadi, almarhum terpantau sangat aktif menjalankan ibadah. Dalam dua hari berturut-turut, ia mengikuti program city tour dan melaksanakan ibadah umrah sunnah di Masjidil Haram. Padahal, almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit jantung yang membutuhkan perhatian khusus.
Baca Juga
Kholistin menjelaskan bahwa almarhum mulai mengeluhkan sakit pada bagian dada setibanya dari Masjidil Haram. Tim kesehatan kloter bergerak cepat memberikan pertolongan pertama, termasuk melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Namun, karena kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut, pihak medis merujuknya ke Rumah Sakit An-Nur sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Sesuai dengan prosedur otoritas Arab Saudi, almarhum dimakamkan di Makkah setelah disalatkan di Masjidil Haram. Sementara itu, istri almarhum yang ikut serta dalam rombongan tetap melanjutkan ibadah haji hingga puncak wukuf di Arafah mendatang.
Imbauan bagi Jemaah Haji
Pihak Kemenag Kulon Progo kini memperketat pengawasan dan memberikan imbauan serius kepada seluruh jemaah, terutama bagi mereka yang tergolong lanjut usia atau memiliki risiko kesehatan tinggi. Kholistin menekankan pentingnya menjaga stamina menuju puncak haji pada 10 Zulhijah.
"Saya sampaikan di grup itu jangan terlalu memforsir diri untuk melaksanakan ibadah yang sunnah. Kayak umroh sunnah itu kan yang penting yang wajib saja sudah dilaksanakan atau jangan terlalu ngoyo," tegasnya.
Baca Juga
- Bantah Konten Viral Medsos, Kepala TNGM: Pendakian Merapi Tetap Tutup, Status Masih Siaga
- Gunung Merapi Kembali Bergolak, Kamera Pemantau Rekam Awan Panas Guguran Sejauh 9 KM
Pihak otoritas mengingatkan bahwa rangkaian puncak haji seperti perjalanan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina memerlukan fisik yang sangat kuat karena tingkat kepadatan manusia dan cuaca yang ekstrem. Para jemaah diminta untuk bijak mengatur tenaga agar tetap sehat hingga kembali ke tanah air.