Lifestyle . 18/05/2026, 18:49 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Bagi sebagian besar penikmat kopi rumahan, menyeduh secangkir kopi hitam sering kali dianggap perkara mudah—cukup tuang air mendidih langsung dari dispenser atau kompor ke dalam cangkir. Namun, di mata sains, kebiasaan tersebut justru merupakan kesalahan fatal yang dapat merusak kualitas rasa dan aroma asli biji kopi.
Faktanya, cita rasa secangkir kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas bijinya semata, melainkan dipengaruhi oleh interaksi rumit antara genetik tanaman, lingkungan tempat tumbuh, hingga teknik ekstraksi saat diseduh. Fenomena variasi rasa akibat perbedaan wilayah tanam ini dalam ilmu sains dikenal sebagai interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.
Pakar Genetika Ekologi sekaligus Peneliti dari IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa ada beberapa parameter ilmiah krusial yang wajib dipahami jika ingin menghasilkan seduhan kopi yang sempurna dan berkarakter.
1. Tabu Menggunakan Air 100 Derajat Celcius
Faktor paling fundamental yang sering diabaikan adalah rasio, kualitas, serta suhu air yang digunakan. Prinsip dasarnya sangat sederhana: jika air tersebut terasa segar dan layak minum, maka air itu aman digunakan untuk menyeduh. Namun, ketepatan suhu termal memegang kendali penuh atas rasa akhir.
Prof. Ronny menegaskan bahwa suhu air ideal yang direkomendasikan untuk mengekstrak sari kopi berkisar antara 91°C hingga 96°C, dengan titik terbaik mendekati 96°C.
“Ada sesuatu yang tidak banyak orang ketahui, yaitu tidak disarankan menggunakan air mendidih dalam menyeduh kopi. Menggunakan air mendidih dengan suhu 100°C justru akan menurunkan kualitas aroma dan kandungan kopi lainnya,” papar Prof. Ronny.
Sebaliknya, jika suhu air berada di bawah 91°C, panasnya tidak akan mampu mengangkat senyawa-senyawa esensial di dalam kopi secara optimal. Solusi praktisnya, setelah air matang mendidih, diamkan sejenak selama beberapa menit agar suhunya turun ke titik ideal sebelum diguyur ke atas bubuk kopi.
2. Misteri Ukuran Gilingan (Grind Size)
Tingkat kehalusan bubuk kopi juga memegang peranan penting. Secara teori fisik, semakin halus partikel bubuk kopi, maka semakin luas pula area permukaan yang bersentuhan langsung dengan air panas, sehingga proses larutnya senyawa menjadi lebih cepat.
Namun, Prof. Ronny mengingatkan bahaya over-extraction jika gilingan terlalu halus. Bubuk yang kelewat mulus akan menahan air panas lebih lama di dalam wadah seduh. Akibatnya, elemen-elemen senyawa negatif yang seharusnya dibuang justru ikut larut ke dalam cangkir, yang memicu munculnya rasa pahit pekat yang mengganggu lidah.
3. Durasi Seduh Menentukan Kadar Kepahitan
Komponen aroma dan rasa kopi terbentuk secara bertahap selama proses pemanggangan (roasting) dan dilepaskan secara berkala saat diseduh. Jika proses perendaman air terlalu singkat, maka karakter asli kopi gagal keluar sepenuhnya. Namun, jika dibiarkan terlalu lama terendam, bencana rasa akan terjadi.
“Sebagai contoh, komponen alkaloid pada kopi adalah komponen yang paling lambat diekstrak selama proses penyeduhan. Jika komponen ini sampai ikut terekstrak (karena terlalu lama), kopi yang dihasilkan akan terasa jauh lebih pahit,” pungkas Prof. Ronny.
Maka dari itu, ketepatan waktu (timing) dalam memisahkan ampas dan air kopi menjadi kunci terakhir untuk mengunci rasa manis alami, keasaman yang segar, serta aroma harum khas kopi nusantara.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media