News . 19/05/2026, 16:59 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakan militer Angkatan Laut Israel yang melakukan pencegatan dan penahanan sewenang-wenang terhadap armada misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Gaza, Palestina. Insiden tersebut berujung pada penangkapan sejumlah aktivis dan tiga jurnalis asal Indonesia.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya selalu berdiri di garda depan untuk menolak segala bentuk intervensi yang menggunakan narasi politik kekerasan. Menurutnya, tindakan represif bersenjata di wilayah perairan internasional hanya akan membawa kehancuran dan merugikan semua pihak.
"Muhammadiyah selalu mengecam setiap bentuk intervensi menggunakan kekerasan atau politik kekerasan. Mereka (para jurnalis dan relawan) kan tidak punya kepentingan politik apa pun," tegas Haedar Nashir saat memberikan pernyataan di Yogyakarta, Selasa 19 Mei 2025.
Haedar mendesak agar Israel tidak bertindak secara membabi buta dalam merespons misi perdamaian global. Dirinya juga menuntut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil langkah konkret atas aksi pelanggaran hukum humaniter internasional ini.
Menurutnya, ketidakberdayaan PBB saat ini menunjukkan adanya lorong buntu kemodernan, di mana negara-negara adidaya pemegang hak veto justru seringkali menyuburkan perang ketimbang memelopori perdamaian.
Berdasarkan data kronologis yang dihimpun di lapangan, ketegangan mulai memuncak pada Senin 18 Mei 2026 pagi. Armada GSF 2.0 yang mengangkut bantuan logistik, obat-obatan, dan sembilan delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) berlayar mendekati wilayah perairan internasional dekat Siprus, berjarak sekitar 200 hingga 250 mil laut dari daratan Gaza.
Sekitar pukul 11.00 waktu Turki, sejumlah kapal perang Angkatan Laut Israel mulai melakukan manuver intersepsi berbahaya dengan mendekati kapal-kapal sipil pengangkut bantuan dalam jarak yang sangat dekat.
Situasi kian kritis memasuki sore hari. Jurnalis Republika, Bambang Noroyono, yang berada di dalam Kapal BoraLize, menyadari situasi bahaya tersebut dan sempat mengirimkan laporan darurat ke kantor redaksi pusat di Jakarta pada pukul 15.20 WIB.
Ia melaporkan bahwa kapal militer Israel sudah mengepung posisinya dalam jarak hanya seratusan meter. Sesuai dengan protokol keselamatan misi internasional, Bambang langsung mengaktifkan dan mengirimkan sinyal SOS. Sesaat setelah pesan darurat tersebut terkirim ke satelit, seluruh jaringan komunikasi terputus total (lost contact).
Setelah melewati masa ketidakpastian yang menegangkan, Command Center Global Sumud Nusantara di Malaysia akhirnya mengeluarkan konfirmasi resmi. Mereka menyatakan bahwa Kapal BoraLize dan Kapal Ozgurluk telah dipaksa berhenti dan dikuasai oleh militer Israel.
Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa militer Israel telah menahan lima orang WNI. Dua di antaranya merupakan jurnalis foto dan jurnalis teks dari Republika, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah.
Berikut adalah daftar rincian 9 delegasi WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan tersebut beserta status terakhirnya:
Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) – Kapal BoraLize (Ditangkap)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media