MENGERIKAN! Hasil Skrining Ungkap Puluhan Balita Korban Little Aresha Alami Gangguan Mental dan Kurang Gizi
Ilustrasi pemeriksaan antropometri dan tumbuh kembang balita oleh tim medis untuk mendeteksi gangguan gizi dan trauma psikologis anak.Foto:ANT
jogja.fin.co.id - Dampak penelantaran dan kekerasan sistemik di Daycare Little Aresha, Sorosutan Jogja, ternyata menyisakan trauma fisik yang mendalam pada tubuh para balita yang pernah dititipkan di sana. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan psikologis berskala besar terhadap ratusan anak eks asuhan daycare maut tersebut, ditemukan fakta mencengangkan bahwa belasan anak kini mengalami gangguan pertumbuhan gizi serta penyimpangan perkembangan mental.
Dari total 149 anak yang berhasil dilacak dan menjalani pemeriksaan antropometri (skrining pertumbuhan), tim medis mendapati sedikitnya 18 balita berada dalam kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
"Dari sebanyak 149 anak yang menjalani skrining pertumbuhan, ditemukan 18 anak mengalami masalah gizi pada tahapan berat badan kurang dan gizi kurang," ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta, Aan Iswanti, saat memaparkan rincian data medis di Yogyakarta, Selasa 19 Mei 2026.
Belasan anak yang terdeteksi mengalami gejala awal malnutrisi akut akibat pola asuh keliru selama di daycare tersebut kini harus dievakuasi dan dirujuk secara darurat ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terdekat. Langkah intervensi ini diambil guna melakukan validasi status gizi oleh Tim Asuhan Gizi agar anak-anak tersebut segera mendapatkan asupan suplemen pemulihan.
Baca Juga
Selain Gizi Buruk, Korban Alami Penyimpangan Perkembangan
Petaka yang menimpa bayi-bayi malang ini tidak berhenti pada masalah fisik semata. Efek dari dugaan isolasi, kurungan, atau kekerasan psikologis selama berada di bawah penanganan pengasuh Little Aresha juga berdampak fatal pada fungsi kognitif dan motorik mereka.
Pemeriksaan spesifik yang melibatkan psikolog klinis profesional terhadap 153 anak menunjukkan potret evaluasi tumbuh kembang yang sangat merah. Berdasarkan pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), puluhan anak asuh terindikasi tidak tumbuh selayaknya anak-anak seusia mereka.
"Dari sebanyak 153 anak yang menjalani skrining perkembangan, hasil pemeriksaan menunjukkan 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak dalam kategori meragukan, dan 122 anak berada dalam perkembangan normal," jelas Aan Iswanti dengan nada prihatin.
Terpaksa Dirujuk ke Psikolog dan Puskesmas secara Intensif
Guna menyelamatkan masa depan anak-anak tersebut, otoritas kesehatan bersama UPT Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA) langsung menetapkan status atensi khusus bagi 12 anak yang mengalami penyimpangan serta 19 anak dengan status meragukan.
Baca Juga
- Bupati Sleman Kebut Audit Korupsi Kalurahan Bangunkerto, Warga Diminta Urungkan Demo
- Gerebek Markas Love Scamming di Semarang, Imigrasi Amankan 4 WNA Tiongkok dan 604 Ponsel
Mereka diwajibkan menjalani kunjungan ulang secara berkala ke puskesmas untuk mendapatkan terapi tumbuh kembang dan pendampingan psikologis secara komprehensif. Sejauh ini, baru sembilan anak yang sudah berhasil mengakses layanan validasi dan pemulihan trauma tersebut di puskesmas.
Data medis ini menjadi bukti tak terbantahkan di lapangan bahwa kasus Little Aresha bukan hanya pelanggaran izin usaha atau penganiayaan oknum biasa, melainkan sebuah tragedi penelantaran massal yang merusak generasi emas sejak usia dini.