News . 03/06/2026, 08:52 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Dinamika kelembagaan di Universitas Gadjah Mada (UGM) memasuki babak baru. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM kini resmi membubarkan format lamanya dan bertransformasi total menjadi Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM.
Deklarasi perubahan mendasar ini berlangsung di Bundaran Boulevard UGM pada Senin, 1 Juni 2026, bertepatan dengan momen peringatan Hari Lahir Pancasila. Kehadiran elemen civitas akademika dan mitra strategis menjadi saksi lahirnya arah baru gerakan mahasiswa yang mereka klaim lebih inklusif dan adaptif.
"Dengan semangat baru dan tekad yang bulat, mari menjadi saksi arah gerak, komitmen, dan visi besar yang akan dibawa oleh SEMA UGM selama satu periode ke depan demi mewujudkan kontribusi yang nyata," bunyi pernyataan tertulis manajemen organisasi melalui akun resmi @semaugm_official.
Ketua SEMA UGM, Sheron Adam Funay, menegaskan bahwa reposisi ini merupakan orientasi baru untuk menyembuhkan persoalan internal yang akut dalam gerakan mahasiswa.
“Kami percaya dari Serikat Mahasiswa UGM, fragmentasi gerakan dan elitisme itu bisa diobati. SEMA bukan badan eksekutif yang hierarkis, melainkan organisasi setara fakultas dengan tujuan menyatukan gerakan mahasiswa,” ujar Sheron di lokasi deklarasi.
Mahasiswa Hubungan Internasional tersebut menjelaskan bahwa SEMA UGM membawa perombakan struktur yang sangat kontras dengan era BEM. Salah satu keputusan paling ekstrem adalah penghapusan sistem Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa).
Selama ini, sistem kontestasi politik terbuka di dalam kampus dinilai rentan terjebak dalam pusaran popularitas, patronase politik, serta perebutan kekuasaan semata. Kondisi tersebut yang kerap mengaburkan substansi dan tujuan utama dari pergerakan mahasiswa itu sendiri. Sebagai gantinya, SEMA UGM bakal menerapkan sistem pemilihan berbasis meritokrasi.
“Kami tidak mencoba menempatkan orang-orang yang menang secara politik di tempat-tempat strategis. Kami menjunjung tinggi meritokrasi dan kerja keras sehingga mereka mendapat posisi strategis karena kemampuan, bukan karena kemenangan politik,” kata Sheron.
Selain merombak sistem suksesi, SEMA UGM juga mengubah cara pandang mengenai klaim keterwakilan. Sheron mengkritik cara kerja BEM masa lalu yang kerap memosisikan diri secara sepihak sebagai representasi tunggal dari seluruh mahasiswa UGM. Melalui SEMA, mereka kini menempatkan diri sebagai organisasi yang bergerak mewakili anggotanya, tanpa perlu mengklaim berbicara atas nama seluruh mahasiswa universitas.
“BEM selama ini sering diposisikan sebagai representasi seluruh mahasiswa UGM. SEMA berbeda karena menempatkan diri sebagai organisasi yang mewakili anggota tanpa mengklaim berbicara atas nama seluruh mahasiswa,” tuturnya.
Langkah perombakan ini mendapat dukungan penuh dari Ketua BEM UGM periode 2025, Tiyo Ardianto. Tiyo memandang transformasi ini sebagai momentum penting guna menghidupkan kembali mesin demokrasi kampus yang mulai redup di tengah situasi sosial-politik nasional yang kian rumit.
Menurut Tiyo, model keterwakilan mutlak yang dipraktikkan format BEM terdahulu sudah tidak relevan dengan realitas mahasiswa hari ini yang cenderung apatis terhadap gerakan konvensional.
“Hari ini, yang kita butuhkan sebenarnya bukan lagi representasi formal, melainkan partisipasi aktif. Hal itulah yang sedang diusahakan oleh Serikat Mahasiswa. Jadi betapapun dia berbasis kader atau anggota, bukan berarti dia tidak peduli terhadap sesama,” jelas Tiyo.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media