News . 03/06/2026, 08:52 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Situs sejarah mencatat bahwa organisasi mahasiswa di UGM terus berganti rupa demi menyesuaikan diri dengan eranya. Mahasiswa Bulaksumur pernah mencicipi era MKK-BKK, Senat Mahasiswa, BEM, hingga format BEM KM. Setiap masa selalu melahirkan bentuk gerakan yang mereka anggap paling sanggup menjawab tantangan publik.
Kini, kehadiran SEMA memicu diskusi fundamental mengenai masa depan pergerakan. Ketika lembaga mahasiswa bergerak terlalu dekat dengan birokrasi, organisasi tersebut sering kali justru berjarak dari jeritan mahasiswanya sendiri.
Tiyo Ardianto menambahkan bahwa konstelasi sosial-politik nasional saat ini memaksa mahasiswa merumuskan taktik baru yang tidak lagi mengandalkan elitisme gerakan. "Kita harus hargai apa yang dilakukan Sheron dan kawan-kawan sebagai upaya merespons zaman. Sekarang saatnya lah gerakan mahasiswa perlu bertransformasi,” pungkas Tiyo. Sejarah pergerakan tidak pernah berhenti, dan SEMA UGM kini memegang kendali untuk membuktikan efektivitas format baru ini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media