News . 04/06/2026, 19:49 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Tim peneliti lintas disiplin ilmu yang tergabung dalam Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM mengungkap hasil temuan sementara fenomena terror api di sebuah rumah di Seyegan, Sleman.
Berdasarkan serangkaian observasi, tim ahli menyimpulkan bahwa kemunculan kobaran api tersebut berhubungan erat dengan akumulasi gas hidrogen di area bangunan.
Rumah milik keluarga Mutfiana ini sebelumnya mengalami rentetan kebakaran misterius hingga sembilan kali dalam sehari. Kondisi ekstrem tersebut bahkan sempat membuat tim Gegana Polda DIY hingga jajaran akademisi turun tangan ke lokasi untuk melakukan sterilisasi dan pelacakan.
Ketua tim PKPE FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi, mengonfirmasi bahwa indikasi awal bersumber dari unsur kimia alami yang terkumpul di area hunian.
"Kesimpulan sementara, keluarnya api, berasosiasi dengan gas hidrogen," ujar Alva kepada awak media, Kamis 4 Juni 2026.
Para peneliti menduga kuat bahwa kemunculan senyawa hidrogen tersebut berasal dari aktivitas usaha pemotongan ayam milik korban. Kebetulan, tempat produksi atau penjagalan unggas tersebut posisinya menempel langsung dengan dinding rumah yang mengalami rentetan kebakaran. Kondisi lingkungan ini memicu terjadinya proses fermentasi material organik dari sisa limbah pemotongan yang kemudian melepaskan senyawa gas ke udara.
Selain hidrogen, tim PKPE FT UGM mendeteksi keberadaan gas fosfin (PH3) yang memiliki karakter jauh lebih sensitif dan mudah terbakar pada suhu kamar biasa. Unsur fosfin ini umumnya terbentuk dari penguraian material yang kaya akan fosfat, seperti tumpukan tulang serta bagian keras dari bulu-bulu ayam.
Sifat dasar fosfin yang sangat mudah habis terbakar saat bersentuhan dengan oksigen membuatnya sulit terdeteksi oleh alat standar. Kendati demikian, tim ahli menilai zat ini yang menjadi pemantik utama munculnya percikan api awal hingga membakar gas hidrogen di sekitarnya.
Prosedur pelacakan fenomena ini melibatkan rangkaian pengamatan terjadwal. Pada observasi awal Sabtu 30 Mei 2026, tim Gegana Polda DIY sempat mendeteksi keberadaan gas metana (CH4) di titik lokasi.
Namun, saat tim UGM melakukan pemindaian menggunakan kamera termal, hasil visual justru tidak menunjukkan adanya lonjakan suhu yang ekstrem. Suhu di area titik api terpantau hanya berkisar pada angka 29 derajat Celsius, yang artinya masih masuk dalam rentang suhu ruangan normal.
Kondisi berubah signifikan saat tim Teknik Geologi melakukan deteksi gas lanjutan pada Senin 1 Juni 2026. Alat pengukur mencatat anomali hidrogen yang sangat tinggi pada area kamar mandi yang sempat mengeluarkan api, dengan angka indikator mencapai 0,11.
Bahkan, saat api mendadak muncul kembali di salah satu kamar pada hari yang sama, instrumen detektor menangkap lonjakan kadar hidrogen di dekat titik api hingga menembus angka 0,40.
Pengujian ketiga pada Rabu 3 Juni 2026 oleh pakar Teknik Kimia UGM kembali memperkuat temuan tersebut, di mana tidak ada zat mudah terbakar lain yang terdeteksi selain hidrogen.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media