Edukasi . 11/06/2026, 21:17 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Banyak orang mencintai dengan syarat: pasangan harus mapan, teman harus menguntungkan, atau orang lain harus sesuai harapan. Namun, bagaimana jika cinta justru diuji saat keadaan berubah?
Pesan itu mengemuka dalam kajian Forum Pengajian Ahad Kliwon atau Pawon Moetoe yang digelar di Masjid Multi Fungsi SMP Muhammadiyah 7 Kotagede, Kompleks Njeron Bata Purbayan, Ahad 7 Juni 2026.
Dalam forum tersebut, psikolog sekaligus akademisi, Prof. Dr. H. Khoirudin Bashori, mengajak peserta memahami makna mencintai tanpa syarat melalui pemaknaan dua nama pertama dalam Asmaul Husna, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Menurut Khoirudin, ketulusan menjadi fondasi penting dalam menyayangi sesama. Cinta yang terlalu banyak syarat, kata dia, kerap rapuh saat ujian datang.
“Ketika kita menyayangi, ketulusan dan keikhlasan harus menjadi dasar,” ujar Khoirudin dalam kajian tersebut.
Ia mencontohkan hubungan pasangan yang dibangun hanya atas dasar materi berpotensi kehilangan makna saat kondisi ekonomi berubah. Ketika pasangan mengalami kesulitan finansial atau kebangkrutan, cinta semacam itu rentan memudar.
Pandangan serupa juga berlaku dalam dunia pendidikan. Khoirudin menilai seorang guru semestinya tidak memilih-milih murid untuk diajar hanya karena tingkat kecerdasan tertentu.
“Kalau mengajar harus menunggu murid pandai, itu berarti ada syarat dalam memberi kasih,” tuturnya, menggarisbawahi pentingnya ketulusan dalam mendidik.
Dalam kajian bertema Asmaul Husna tersebut, Prof. Khoirudin mendorong peserta menerapkan nilai kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari dengan landasan keikhlasan dan harapan akan ridha Allah SWT.
Psikolog itu menjelaskan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim dapat menjadi panduan untuk membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan pasangan, keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar.
Ia mengatakan, kasih sayang yang tulus akan menghadirkan ketenangan karena tidak dilandasi pamrih berlebihan.
“Ketika Allah memberi ridha, hasilnya akan indah,” kata dia.
Kajian Pawon Moetoe sendiri hadir dengan konsep berbeda dibanding pengajian pada umumnya. Peserta tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi diajak mengkaji secara mendalam tema tertentu.
Ketua Paguyuban Alumni Moetoe (PAM) Moetoe, Hj. Nilawati Isdwiantari, S.Pd., M.Pd., menyebut forum tersebut dirancang agar jamaah mendapatkan pengalaman spiritual yang lebih reflektif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media