Belajar dari Kajian Pawon Moetoe: Mengapa Mencintai Pasangan dan Sesama Seharusnya Tanpa Syarat?
Kajian Pawon Moetoe di Masjid Multi Fungsi SMP Muhammadiyah 7 Kotagede membahas makna cinta tanpa syarat dalam kehidupan.Foto:dok.dini
Kajian yang Mengajak Peserta Merenung
Pengajian yang terbuka untuk umum ini digelar rutin setiap Ahad Kliwon pukul 07.30–09.00 WIB. Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat dhuha delapan rakaat secara mandiri, pembacaan Asmaul Husna, tilawah Al-Qur’an melalui surat pilihan Al-Ma’tsurat, doa untuk keluarga dan guru yang telah wafat, hingga kajian utama.
Pada program perdana, alumni SMP Muhammadiyah 7 Kotagede sekaligus Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Drs. H. Akhid Widirahmanto, berharap kajian semacam ini mampu menarik lebih banyak masyarakat karena lahir dari kebutuhan spiritual, bukan keterpaksaan.
“Kita harus membuktikan bahwa warga Muhammadiyah senang mengaji di mana pun dan kapan pun,” katanya.
Salah satu bagian yang paling membekas bagi peserta datang dari sesi doa bersama. Dra. Hj. Sri Lestari, mantan guru sekaligus alumni sekolah tersebut, mengatakan suasana menjadi sangat emosional ketika peserta diajak menyebut nama orang tua, pasangan, anak, mertua, hingga guru-guru yang telah meninggal dunia.
Baca Juga
Menurut aktivis Aisyiyah Kotagede itu, momen tersebut kerap menghadirkan keheningan dan rasa haru karena peserta mengenang orang-orang yang pernah memberi warna dalam hidup mereka.
“Kadang kita menangis dalam diam saat mengingat kebaikan mereka,” ujarnya.