News . 11/06/2026, 09:20 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah terus menunjukkan fluktuasi vulkanik yang tinggi. Setelah sempat meluncurkan awan panas guguran pada Rabu malam, 10 Juni 2026 pukul 22.58 WIB, gunung api aktif ini kembali mencatatkan aktivitas serupa pada pengamatan berkala hari Kamis, 11 Juni 2026. Data terbaru mengonfirmasi adanya akumulasi guguran material panas dengan jarak luncur yang signifikan.
Laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melalui laman Magma mendedahkan bahwa kubah lava Merapi menyemburkan awan panas guguran sebanyak satu kali.
Luncuran awan panas tersebut bergerak sejauh 2 kilometer menuju sektor barat, secara spesifik mengarah ke hulu Sungai Sat dan Sungai Putih. Jarak luncur ini konsisten dengan terekamnya amplitudo kegempaan maksimum sebesar 46,98 mm dengan durasi mencapai 94,49 detik pada instrumen seismik.
Selain awan panas, pemantauan visual dan seismik juga menangkap aktivitas guguran lava pijar. Gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini meluncurkan lava pijar sebanyak satu kali dengan jarak jangkau mencapai 1,9 kilometer. Petugas pos pengamatan melaporkan bahwa material membara tersebut mengalir ke jalur yang sama, yakni menuju alur Sungai Sat dan Sungai Putih di sektor barat daya.
Dinamika internal Gunung Merapi tercermin sangat kuat dari tingginya intensitas gempa guguran di dalam perut gunung. Sepanjang periode pengamatan terbaru, instrumen BPPTKG mendeteksi gempa guguran sebanyak 43 kali.
Selain itu, sistem perekaman sismik juga menangkap adanya 18 kali gempa fase banyak atau hybrid serta 1 kali gempa tektonik, yang menandakan pasokan magma dari kedalaman menuju permukaan masih terus berlangsung secara konstan.
Secara visual, kondisi puncak Gunung Merapi saat ini bervariasi antara terlihat jelas hingga sesekali tertutup oleh kabut tipis, sementara asap kawah utama tidak teramati muncul di atas puncak.
Situasi meteorologi di sekitar lereng menunjukkan cuaca berawan hingga mendung tebal. Pengamat mencatat suhu udara di sekitar pos pemantauan berada pada angka yang cukup dingin, berkisar antara 17,1 hingga 18,9 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara mencapai 86,7 hingga 89,7 persen.
Hingga saat ini, otoritas kebencanaan masih menetapkan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Status ini belum berubah mengingat pertumbuhan kubah lava dan guguran material masih terjadi secara kontinu.
Potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas yang dapat mengarah ke sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong, Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng. Sementara untuk sektor tenggara, potensi luapan material mengancam kawasan Sungai Gendol dan Sungai Woro.
Petugas pos pengamatan tetap mengimbau masyarakat agar mematuhi rekomendasi teknis yang telah dikeluarkan. Warga maupun wisatawan dilarang keras melakukan kegiatan apa pun di dalam kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan.
Lontaran material vulkanik jika terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak gunung. Warga yang beraktivitas di dekat alur sungai juga perlu mewaspadai bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan, terutama saat mendung tebal mulai menyelimuti area puncak Merapi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media