News . 14/06/2026, 14:39 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Pada awal Juni, Pusat Kajian Pelambatan Entropi atau PKPE Fakultas Teknik UGM di bawah pimpinan Profesor Alva Edy Tontowi mulai melakukan tiga kali observasi lapangan. Pada fase ini, uji laboratorium awal tim UGM sempat mengarah pada dugaan aktivitas biologis dari limbah organik.
- Tingkat Akumulasi Gas: Saat melakukan observasi kedua pada Senin, 1 Juni 2026, tim mendeteksi akumulasi gas hidrogen yang cukup tinggi pada baju yang terbakar yaitu sebesar 0,40 dan di area kamar mandi sebesar 0,11.
- Teori Gas Hidrogen dan Fosfin: Berdasarkan temuan tersebut, tim mengasumsikan adanya proses fermentasi limbah cair dari pemotongan ayam di sekitar lokasi yang menghasilkan gas hidrogen. Tim juga menduga adanya gas fosfin dari fosfat tulang dan bulu ayam yang memicu kebakaran spontan saat bertemu oksigen. Sebagai langkah mitigasi awal, UGM sempat membantu melakukan penjenuhan cairan basa atau air kapur pada tanah lantai rumah untuk menekan bakteri Clostridium pembentuk hidrogen.
4. Pertengahan Juni 2026: BRIN Meragukan Teori Fosfin dan Lakukan Uji Komparatif
Pada Senin, 8 Juni 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN melalui Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Hari Soekarno, turut turun ke lapangan untuk melakukan observasi komparatif.
- Keraguan BRIN: Setelah memeriksa langsung instalasi limbah di rumah warga tersebut, BRIN menyatakan keraguannya terhadap teori gas fosfin. Menurut Hari Soekarno, seandainya gas fosfin terbentuk dari limbah ayam, sifat gas tersebut seharusnya sudah langsung lepas dan menguap ke atmosfer, bukan mengumpul di dalam ruangan.
- Rencana Sampling: BRIN kemudian berkoordinasi dengan UGM dan UPN untuk mengambil sampel gas ruangan menggunakan metode kromatografi gas guna memastikan apakah kandungan dominannya merupakan hidrogen atau metana.
Sebelum UGM menerjunkan tim, sempat muncul dugaan bahwa api dipicu oleh gas pyrophoric dari limbah potongan ayam berfosfor karena alat detektor gas sempat membaca adanya kandungan hidrogen. Namun, Alva Edy Tontowi menjelaskan bahwa temuan tersebut merupakan kekeliruan membaca objek oleh alat atau fenomena cross sensitivity.
Saat PVC terbakar, lanjut Alva, senyawa tersebut akan melepaskan gas Hidrogen Klorida. Gas inilah yang kemudian terbaca sebagai gas hidrogen oleh perangkat detektor di lapangan karena memiliki sensor dengan membran H2.
Alva menambahkan, atom hidrogen dalam molekul gas hidrogen klorida pemicu pembakaran PVC tersebut membuat elektroda sensor bereaksi. Akibatnya, alat detektor seolah-olah menangkap keberadaan gas hidrogen murni di lokasi.
Kepastian mengenai keberadaan senyawa plastik buatan manusia ini didapatkan setelah tim mengambil sampel residu kebakaran pada dinding keramik, kayu, serta tripleks.
Melalui metode Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), laboratorium mendeteksi adanya kandungan resin PVC dalam jumlah yang tidak umum di permukaan material rumah tersebut.
Meskipun komponen bahan bakar berupa resin PVC telah teridentifikasi, tim peneliti UGM menyatakan bahwa teka-teki mengenai apa yang menyulut api pertama kali masih belum terpecahkan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media