Selasa, 23 Juni 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Ramalan Jayabaya Terbukti? Pameran Lukisan Pasaran Budi Ubrux Potret Lesunya Pasar

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
22/06/2026, 11:48 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Ramalan Jayabaya Terbukti? Pameran Lukisan Pasaran Budi Ubrux Potret Lesunya Pasar

Tokoh politik Ganjar Pranowo membuka pameran tunggal seniman Budi Ubrux di Laku Art Space, Sudimoro, Jalan Imogiri Barat, Bantul, Yogyakarta. Foto:dok.jogja.fin.co.id

jogja.fin.co.id – Tokoh politik Ganjar Pranowo menghadiri sekaligus membuka secara resmi pameran tunggal seniman Budi Ubrux di Laku Art Space, Sudimoro, Jalan Imogiri Barat, Bantul, Yogyakarta.

Pameran seni rupa ini menjadi bagian dari agenda Syawalan Seni Rupa Indonesia yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026.

Dalam sambutannya di hadapan para seniman, Ganjar Pranowo mengapresiasi langkah Budi Ubrux yang berani mengangkat tema "Pasaran".

Tema ini merekam kondisi riil pasar tradisional yang saat ini berjuang menghadapi perubahan zaman.

Advertisement

Ganjar menyatakan rasa terima kasihnya karena sang seniman menghidupkan kembali narasi ruang publik tradisional tersebut.

Menurut Ganjar, keberadaan toko modern serta platform aplikasi belanja online perlahan menggeser eksistensi pasar rakyat. Dampaknya, aktivitas di pasar tradisional kini semakin senyap.

"Secara khusus pasar sudah kehilangan pengaruhnya kepada kehidupan sosial yang nyata," kata Ganjar Pranowo saat memberikan sambutan di lokasi pameran.

Pameran tunggal ini menampilkan 17 karya terbaru Budi Ubrux dengan media kertas dan pewarna cat air. Seluruh objek lukisan digarap langsung di lokasi secara on the spot.

Beberapa tempat yang menjadi latar penciptaan karya meliputi Pasar Hewan Sihono di Gunungkidul, Pasar Bantul, Pasar Pleret, hingga kawasan pantai di Kabupaten Bantul.

Penulis pameran, Agus Noor, memberikan catatan kebudayaan terkait karya-karya tersebut. Pria yang aktif menulis cerita dan naskah film ini menjelaskan bahwa kata "pasaran" merujuk pada siklus lima hari dalam kalender Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Baca Juga

Pada hari-hari tertentu, sebuah pasar tradisional akan mencapai puncak keramaiannya.

Agus Noor menilai pameran ini membawa pesan penting agar pasar tidak kehilangan ritme kemeriahannya.

Lebih luas lagi, ia mengaitkan fenomena sepinya pasar tradisional dengan bait ramalan dalam Kitab Jangka Jayabaya yang disuratkan oleh pujangga Ranggawarsito mengenai istilah pasar ilang kumandange.

Advertisement

"Hari pasaran menjadi perayaan dan kegembiraan yang lebih dari sekadar transaksi jual beli. Tapi ada kemeriahan sekaligus kehangatan," tutur Agus Noor.

Ia menambahkan, pameran ini menemukan relevansi aktualnya pada masa sekarang, di mana situasi ekonomi dan sosial terasa terbolak-balik.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja