News . 15/07/2026, 12:50 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Memasuki musim kemarau 2026, wilayah hutan negara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih relatif aman tanpa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga awal musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat belum ada kejadian karhutla di kawasan hutan negara.
Meski begitu, BPBD DIY tidak menurunkan kewaspadaan. Potensi kebakaran tetap diantisipasi, terutama karena fenomena El Nino diperkirakan berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Analis Kebakaran Ahli Muda Bidang Damkarmat BPBD DIY, Mahujud, mengatakan belum ditemukan kasus karhutla di kawasan hutan negara sepanjang awal musim kemarau tahun ini.
"Selama musim kemarau tahun ini tidak terjadi karhutla di wilayah kawasan hutan negara di DIY," kata Mahujud.
Ia mengingatkan kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan munculnya kebakaran hutan pada bulan-bulan berikutnya. Pengalaman pada 2023 dan 2024 menjadi pengingat bahwa karhutla dapat dipicu oleh aktivitas manusia.
"Bisa saja terjadi, seperti kejadian kebakaran hutan di wilayah DIY pada tahun 2023 dan 2024, dipicu oleh pembakaran sisa tanaman atau sampah hasil pembukaan lahan yang dilakukan oleh petani," ujarnya.
BPBD DIY memperkuat pengawasan di kawasan yang sebelumnya pernah mengalami kebakaran. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengaktifkan kembali peran Masyarakat Peduli Api (MPA) yang selama ini menjadi relawan binaan BPBD.
Menurut Mahujud, personel lapangan bersama anggota MPA diminta meningkatkan kewaspadaan melalui patroli mandiri di kawasan rawan.
"Mengingatkan kembali pada personel di lapangan dan anggota MPA untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap pembakaran lahan oleh petani dengan patroli secara mandiri," katanya.
Selain patroli, BPBD DIY juga terus melakukan sosialisasi kepada tokoh masyarakat dan pamong kalurahan yang berada di sekitar kawasan hutan.
BPBD DIY berkaca pada kejadian kebakaran hutan dalam dua tahun terakhir. Pada 2023, kebakaran cukup besar terjadi di kawasan hutan RPH Kokap, BDH Kulon Progo-Bantul.
Sementara pada 2024, kebakaran juga melanda kawasan RPH Candi, BDH Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Mahujud menjelaskan penyebab utama kedua kejadian tersebut berasal dari aktivitas pembakaran seresah oleh petani penggarap di dalam kawasan hutan.
"Pemicu utama adalah petani penggarap di dalam kawasan hutan yang membakar seresah untuk membersihkan lahan," jelasnya.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino telah memasuki kategori kuat di Indonesia. Kondisi tersebut memengaruhi distribusi curah hujan di sejumlah wilayah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media