News . 02/08/2026, 19:25 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Kepergian maestro lukis Nasirun meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni rupa Indonesia. Almarhum mengembuskan napas terakhir pada Sabtu 1 Agustus 2026.
karya besarnya yang menembus galeri mancanegara, ingatan kolega dan kerabat justru tertuju pada satu hal: kerendahan hatinya yang luar biasa.
Nasirun dikenal sebagai seniman yang telah "selesai dengan dirinya sendiri".
Nama besar di industri seni tak pernah membuatnya memilih-milih kawan atau membatasi ruang sapa.
Pelukis Jumaldi Alfi, sahabat yang mengenal almarhum sejak masa studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengenang Nasirun sebagai sosok yang sama sekali tak terikat oleh ego keaktoran atau status sosial.
"Beliau orang yang dipuji tidak akan besar kepala, dimaki tidak akan sakit hati. Orang yang sudah los stang. Kalau dalam dunia tasawuf itu orang yang sudah selesai dengan dirinya," ungkap Alfi.
Sikap bersahaja Nasirun terlihat dari caranya menghargai undangan orang lain. Saat banyak seniman ternama mulai membatasi kehadiran di ruang publik kecil, Nasirun tetap melangkah tanpa ragu.
Alfi kerap berseloroh mengenai kebiasaan seniornya yang bersedia membuka acara seni di tingkat paling bawah.
"Sosok kayak kamu itu sudah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang saja dia tetap mau. Tetap datang, tetap membuka, tetap ikut," cerita Alfi.
Bagi Nasirun, setiap undangan pameran—baik di galeri mewah, di atas gunung, maupun di permukiman warga—adalah amanah yang wajib dituntaskan selama fisik memungkinkan.
Prinsip ini ia pegang tanpa membeda-bedakan status penyelenggaranya, baik seniman senior maupun perupa muda yang baru merintis karier.
"Jadi orang yang dihajar setengah mati pun dimaki setengah mati cuma membalas dengan ketawa. Orang yang ketika laparnya setengah mati tapi melihat orang lapar di sebelahnya, dia mungkin roti yang di mulut dia itu sedang dia makan, dia akan kasihkan ke orang lain," tambah Alfi.
Membuka Jalan dan Menjadi Inspirasi Seniman Muda
Keteladanan Nasirun juga memberi pengaruh mendalam bagi iklim pendidikan seni. Kurator sekaligus dosen FSRD ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, menilai kehadiran Nasirun membakar semangat para mahasiswa sejak era 1990-an.
Melalui konsistensi karya dan jaringan kolektor yang luas, almarhum membuktikan bahwa profesi seniman mampu menjadi pilihan hidup yang layak.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media