News . 17/08/2026, 17:45 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Pekik semangat kemerdekaan bergema di Istana Kepresidenan Yogyakarta, Gedung Agung, Senin 17 Agustus 2026. Dua pesawat microlight dari Jogja Flying Club FASI DIY melintas di langit udara, tepat di atas lokasi upacara HUT Ke-81 RI.
Pesawat milik Lanud Adisutjipto itu bermanuver melintasi area istana dari arah utara menuju selatan. Aksi flypass ini langsung disambut antusias oleh para peserta maupun tamu undangan.
Kemeriahan acara berlanjut melalui persembahan aubade dari 114 talenta muda perwakilan tujuh sekolah di DIY. Kolaborasi paduan suara dan orkestra tersebut menghidupkan suasana di halaman Gedung Agung.
Ratusan pelajar yang tampil berasal dari SMKN 2 Kasihan, SMPN 6 Yogyakarta, SMPN 16 Yogyakarta, SMP Joannes Bosco Yogyakarta, SMAN 6 Yogyakarta, SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, serta MAN 1 Yogyakarta.
Mereka membawakan sejumlah lagu nasional, seperti "Hari Merdeka", "Aku Indonesia", "Serenade Nusantara", dan "Syukur". Penampilan ini dipimpin oleh konduktor Berny Hanteriska, dengan Dian Lakshmi Pratiwi selaku Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY sebagai pimpinan produksi.
Dua solois muda, Angelina Amoret Tri Ayu Widowati dari SMKN 2 Kasihan dan Christoper Fino Frendly Pramudiyanto, turut memukau hadirin lewat lantunan suara mereka.
Rangkaian atraksi hiburan tersebut melengkapi kekhidmatan upacara yang dipimpin langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Inspektur Upacara. Naskah Proklamasi dibacakan oleh Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman.
Sementara itu, dalam pidatonya, Sri Sultan menegaskan tema HUT Ke-81 RI, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, memiliki keterkaitan erat dengan falsafah peradaban Jawa.
Menurut Sultan, tiga kata dalam tema kemerdekaan tahun ini bertindak sebagai peta jalan pembangunan bangsa.
Ia menjabarkan konsep berdaulat sebagai wujud Sangkan Paraning Dumadi. Prinsip ini menjadi kesadaran asal dan tujuan yang menuntun bangsa berdiri di atas kaki sendiri.
Sementara itu, nilai keadilan dipadankan dengan Jumangkah Anjantra Laku Memayu Hayuning Bawana. Keadilan tercipta saat hasil pembangunan dirasakan merata dari wilayah kota hingga pelosok kalurahan.
Adapun kemakmuran lahir dari sikap Gemi Nastiti Ngati-ati. Kecermatan mengelola sumber daya dinilai penting agar kemakmuran dapat bertahan lintas generasi.
Sultan menyebut ketiga nilai tersebut menyatu dalam laku Nitik-Napak-Nanting. Prinsip ini menuntut tindakan mengamati dengan saksama, berpijak pada kenyataan, serta melangkah dengan penuh pertimbangan.
"Inilah cara Yogyakarta membangun: tidak tergesa, namun juga tidak berhenti melangkah," tegas Sultan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat Eling lan Waspada di tengah ancaman disrupsi teknologi dan persaingan global. Pedoman ini menjaga kedaulatan serta memastikan kemakmuran tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang masih tertinggal.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media