90 Persen Bencana Indonesia Hidrologi, Daya Tampung Air Masih Jauh dari Ideal
Waduk Kedungombo, Embung sebagai infrastruktur daya tampung air untuk menghadapi bencana hidrologi.Foto: SDAPU
jogja.fin.co.id - Lebih dari 90 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrologi. Banjir, longsor, hingga kekeringan masih menjadi ancaman. Di tengah kondisi itu, kemampuan Indonesia menampung air dinilai masih jauh dari ideal.
Menteri Pekerjaan Umum RI Dody Hanggodo mengatakan persoalan tersebut menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya air. Infrastruktur penampung air perlu diperkuat untuk mendukung ketahanan pangan, energi, dan lingkungan.
“Tantangan itu nyata, lebih dari 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrologi. Banjir, longsor, dan kekeringan. Sementara kemampuan kita menampung air masih jauh dari ideal,” kata Dody dalam pidato sambutan yang dibacakan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw.
Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-43 dan Kongres ke-15 Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) di Gedung B Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM, Sabtu 5 September 2026.
Baca Juga
Infrastruktur air harus beriringan dengan pengelolaan
Dody menyebut pengelolaan air menjadi fondasi bagi ketahanan pangan, energi, dan lingkungan. Pembangunan infrastruktur sumber daya air juga perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat.
Menurut dia, capaian swasembada pangan pada 2025 perlu ditopang pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Kementerian PU juga menempatkan investasi yang efisien, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta pertumbuhan ekonomi dalam target pembangunan.
Namun, persoalan air tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah infrastruktur.
“Tidak cukup hanya membangun infrastruktur, kita juga harus mengelola sumber daya air dengan lebih cerdas melalui teknologi, inovasi, tata kelola yang baik dan kolaborasi yang kuat agar manfaatnya semakin besar bagi masyarakat,” ujar Dody.
Pengelolaan sumber daya air secara terintegrasi dinilai semakin penting di tengah perubahan iklim. Teknologi, inovasi, tata kelola, serta kolaborasi antarpihak menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, energi, dan lingkungan.
Baca Juga
Forum PIT HATHI ke-43 dan Kongres ke-15 sendiri mempertemukan akademisi, praktisi, pemerintah, organisasi profesi, dunia usaha, serta pemangku kepentingan bidang sumber daya air. Forum tersebut mengusung tema Pengelolaan Cerdas Interkoneksi Air, Pangan, Energi, dan Lingkungan Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Nasional.
Teknologi dan solusi berbasis alam
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral DIY Aris Prasena mengatakan persoalan air berkaitan erat dengan pangan, energi, ekosistem, serta keberlanjutan kehidupan manusia.
Menurut Sri Sultan, perkembangan Internet of Things (IoT), pengolahan data berskala besar, dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih presisi.
Ia juga menyoroti pendekatan *nature based solution* atau solusi berbasis alam dalam pengelolaan sumber daya air.