Jangan Asal Ikut Tren! Pakar UGM Ungkap Bahaya Fatal Lari Maraton Tanpa Persiapan Bisa Rusak Otot
Ilustrasi pelari yang mengikuti ajang lari jarak jauh di jalan raya.Foto:ventiviews/unsplash
jogja.fin.co.id - Guru Besar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM, memperingatkan masyarakat agar tidak nekat langsung turun ke ajang lomba lari tanpa adaptasi tubuh. Kesalahan umum terjadi ketika seseorang mendadak ikut lomba jarak jauh padahal tidak pernah berolahraga sebelumnya.
“Tidak pernah olahraga, ikut tren. Sekarang trennya lari 10 kilo, half marathon, full marathon. Dia belum pernah menyiapkan sejak awal. Nah, yang terjadi adalah kerusakan-kerusakan pada ototnya,” ujar Denny, Kamis 24 September 2026.
Peningkatan beban latihan secara mendadak memaksa organ dalam bekerja terlalu keras. Selain jaringan otot yang mengalami trauma, sistem kardiovaskular juga menanggung tekanan berat ketika seseorang langsung memforsir tenaga tanpa latihan dasar.
Tubuh manusia membutuhkan proses adaptasi sebelum menerima porsi latihan berat. Karena itu, kebiasaan berolahraga harus dibangun secara bertahap agar sistem tubuh siap menghadapi intensitas tinggi.
Baca Juga
“Kalau memang mau ikut tren ya mulailah persiapkan dari awal dulu, latihan dulu, kuatkan dulu, perbaiki dulu baru kemudian bertahap untuk mengikuti kegiatan tadi,” jelasnya.
Bagi kalangan non-atlet, porsi latihan intensitas tinggi tidak perlu dilakukan setiap hari. Porsi ideal latihan berat cukup dua kali dalam sepekan, sementara sisa jadwal diisi latihan intensitas sedang agar tubuh tidak mengalami kelelahan kronis.
Tips Takaran Latihan Aman
Aktivitas aerobik seperti lari ringan, bersepeda, atau berenang idealnya dilakukan tiga hingga lima kali sepekan.
Setiap sesi memakan waktu sekitar tiga puluh hingga empat puluh menit. Ukuran intensitas sedang terlihat ketika seseorang masih bisa berbicara dengan kalimat utuh tanpa terengah-engah saat beraktivitas.
Selain latihan aerobik, porsi latihan beban wajib menjadi bagian dari rutinitas. Kombinasi tersebut menjaga kekuatan otot secara menyeluruh sekaligus menjadi investasi kebugaran jangka panjang menghadapi masa tua.