Jumat, 25 September 2026
--°C --
-- · --
Edukasi

Kenang Jasa Pendiri, UWM Ziarah ke Makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Usia ke-44 Tahun

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
24/09/2026, 15:50 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Kenang Jasa Pendiri, UWM Ziarah ke Makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Usia ke-44 Tahun

Rombongan sivitas akademika Universitas Widya Mataram saat melaksanakan ziarah ke makam pendiri kampus di kompleks makam raja mataram imogiri.Foto:dok.uwm

jogja.fin.co.id - Usia ke-44 tahun menjadi momentum penting bagi Universitas Widya Mataram Yogyakarta untuk kembali menengok akar sejarah berdirinya kampus. Ratusan sivitas akademika mendatangi Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, untuk berziarah ke makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Rombongan yang terdiri atas rektor, wakil rektor, dekan, ketua program studi, dosen, hingga mahasiswa baru mengikuti prosesi tersebut secara khidmat pada Rabu. Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 UWM sekaligus cara sivitas akademika mengenang jasa besar sang pendiri.

UWM lahir pada 7 Oktober 1982 melalui gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama KGPH Mangkubumi yang kini bertakhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Dokumen resmi universitas mencatat kedua tokoh tersebut sebagai fondasi utama berdirinya perguruan tinggi yang konsisten mengembangkan pendidikan berbasis budaya.

Rektor UWM Prof. Edy Suandi Hamid menyampaikan ziarah ini menjadi agenda rutin institusi. Namun, kegiatan tahun ini menghadirkan pengalaman berbeda karena rombongan hadir langsung di lokasi makam secara bersama-sama dalam skala besar.

“Ini kegiatan kita yang rutin, ziarah kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kita mengunjungi makam beliau untuk mengenang peran-peran beliau sehingga berdiri Universitas Widya Mataram sampai usia 44 tahun,” ujar Prof. Edy, Kamis 24 September 2026

Bagi sivitas akademika, perjalanan ke Imogiri bukan hanya sebuah agenda seremonial tahunan. Kegiatan ini berfungsi sebagai sarana refleksi diri untuk mengingat batas kemanusiaan serta tanggung jawab atas amanah yang diemban.

“Dalam filosofi Widya Mataram, dalam filosofi Kesultanan Jogja, dan juga pemerintah Jogja, ada sangkan paraning dumadi. Kita mengingat asal-usul dan tujuan kita sampai yaumil akhir nanti,” tutur Prof. Edy di hadapan para peserta ziarah.

Ia mengatakan kehadiran UWM sejak awal tidak bertujuan memperbanyak jumlah kampus di Yogyakarta.

Pendirian institusi ini diarahkan untuk menyediakan alternatif pendidikan tinggi berkualitas yang melahirkan intelektual berkarakter serta berakar kuat pada budaya lokal.

Sejumlah nilai utama seperti sangkan paraning dumadi, hamemayu hayuning bawana, serta greget, sengguh, ora mingkuh terus dihidupkan dalam ruang akademik. Nilai tersebut membentuk identitas khas UWM sebagai perguruan tinggi berwawasan kebudayaan.

Rangkaian Dies Natalis ke-44 ini ditutup dengan doa bersama di area makam sesuai ketentuan pengelola kompleks pemakaman.

Seluruh rangkaian acara meneguhkan komitmen sivitas akademika dalam menjaga warisan moral dan visi pendidikan para pendiri bangsa.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja