Eksplore Jogja . 15/05/2026, 14:40 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Di bawah temaram lampu dan suasana yang penuh keheningan, Kabupaten Sleman menandai usia satu abad lebih sepuluh tahun dengan cara yang sangat sakral. Malam Tirakatan Hari Jadi ke-110 Sleman pada Kamis 14 Mei 2026 malam bukan hanya seremoni biasa, melainkan sebuah ritual "laku prihatin" untuk memanggil kembali semangat perjuangan para leluhur Bumi Sembada.
Puncak kekhidmatan terasa saat pusaka agung, Tombak Kyai Turunsih, dikirab dari Kantor Bupati menuju Pendopo Parasamya. Kehadiran pusaka ini bukan hanya simbol, melainkan pengingat akan tanggung jawab pemimpin dan rakyat untuk saling bahu-membahu dalam menjaga keselamatan serta kesejahteraan wilayah.
Tahun ini, Sleman mengusung tema yang sarat akan makna mendalam: “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”. Secara harfiah, tema ini mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pejabat hingga rakyat jelata, untuk bersatu padu (nyawiji).
Dalam sambutan Bupati Sleman yang dibacakan oleh Wakil Bupati Danang Maharsa, ditegaskan bahwa tirakatan ini adalah sarana mawas diri. "Tirakatan ini merupakan wujud laku prihatin, mawas diri, serta mengheningkan cipta, rasa, karsa, dan karya di hadapan Tuhan Yang Maha Agung," ungkapnya di hadapan jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat.
Momen ini menjadi ajakan bagi seluruh aparatur pemerintah untuk tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga mengolah batin agar pelayanan kepada masyarakat semakin tulus dan berkualitas.
Esensi dari malam tirakatan ini adalah "Golong Gilig"—sebuah konsep persatuan bulat yang tidak bisa terpecahkan. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk tetap menjaga kelestarian alam dan nilai-nilai keberadaban yang telah diwariskan turun-temurun.
"Tema ini mengandung arti bahwa seluruh perangkat pemerintahan dan warga harus bersama-sama, memiliki semangat tinggi, dan pantang menyerah demi keselamatan hidup kita di masa mendatang," tegasnya.
Suasana tenang di Pendopo Parasamya malam itu seolah mengunci janji kolektif: bahwa Sleman ke depan harus lebih maju dan adil tanpa meninggalkan akar budayanya. Ritual ini sekaligus menutup rangkaian doa syukur atas perjalanan panjang 110 tahun kabupaten yang berada di lereng Merapi ini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media