Sport . 20/05/2026, 12:09 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Di balik deretan trofi, manajemen menempatkan petikan pesan menyentuh dari legenda hidup PSS, Balet Widodo. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi suporter modern mengenai esensi rasa memiliki (handarbeni) terhadap klub lokal.
“Waktu pemain PSS hanya diisi pemain lokal saja, penonton sudah antusias memenuhi stadion, apalagi ditambah dengan dengan pemain asing. Penonton sudah bisa menilai Handarbeni itu. Yang penting handarbeni itu,” demikian bunyi petuah dari Balet Widodo.
Tur museum ini ditutup dengan suguhan history wall raksasa yang membentang rapi. Dinding sejarah ini merekam dinamika naik-turunnya performa tim, pergantian era kepengurusan, hingga evolusi kompetisi dari tahun 1976 hingga 2026, yang memastikan ingatan kolektif suporter Sleman tetap terjaga selamanya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media