Edukasi . 03/06/2026, 09:37 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Sementara itu, inovasi kedua bertajuk Propasdent, sebuah produk pasta gigi yang dirancang khusus untuk menjaga keseimbangan mikroflora di dalam rongga mulut. Riset ini lahir dari pemikiran bahwa mulut manusia tidak harus berada dalam kondisi steril total, melainkan cukup menjaga keseimbangan mikroorganisme agar tidak memicu penyakit gigi.
“Salah satu kekuatan inovasi kita adalah mengangkat kearifan lokal untuk digunakan sebagai bagian daripada material. Seperti yang diketahui material kedokteran gigi itu kan 90 persen impor, tetapi ternyata kita dengan berbahan lokal pun bisa menciptakan,” ungkap Suryono.
Pihak fakultas berkomitmen agar seluruh hasil riset ilmiah tidak berakhir menjadi tumpukan dokumen publikasi di perpustakaan. Budaya riset di lingkungan kampus biru kini diarahkan agar mampu memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), melakukan hilirisasi, hingga menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Meski demikian, Suryono mengakui bahwa proses komersialisasi produk riset memiliki tantangan besar tersendiri. Ia berharap pihak universitas dapat membentuk sebuah unit bisnis khusus yang bertugas menangani pemasaran produk-produk inovasi dari tiap fakultas.
Kehadiran unit pemasaran tersebut dinilai mampu membantu pendanaan mandiri bagi perkembangan institusi ke depan. Pihak FKG UGM sendiri memastikan akan terus membidik kategori pemeringkatan internasional lainnya dengan mengandalkan basis kekuatan riset yang berbeda.
“Tidak ada yang tidak bisa dilakukan selama kita mau berusaha. Saya yakin generasi berikutnya di FKG UGM ini bisa melanjutkan prestasi yang telah kita capai dan sangat luar biasa,” pungkasnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media